‘Pematik Api’
“Gus, Bagus, ayolah kamu coba ngerokok sekali aja, anak SMA
aja udah pada ngerokok masa kamu enggak.” Celotehan basi yang sudah sangat
biasa aku dengar dari teman-temanku, teman cowok. Tapi aku juga sudah sangat
biasa mengelak dari rayuan iblis mulia berkaki dua menapak pada tanah, Jodi
namanya, teman akrabku ‘kemarin sore’.
“Rokok
apa itu memang, Jod?”
“Sampurpol
Mild, nih!”
“Aduh,
larut malem gini mah, harusnya Djarum Suluh, Jod, biar rada teuas (agak keras), pas sama kopi panas. Gak masuk aku kalau
rokok yang itu jam segini.” Alasanku terdengar terlalu idealis. Nyatanya? Aku
memang gak ada niat buat ngerokok, ya yang tadi cuma alasan bercandaku, sih.
Toh si Jodi juga sudah tahu aku pasti ngeles tiap ditawarin rokok. Dan lagi,
padahal sudah dingin kopinya.
“Ah,
kebiasaan lah, pasti jawabnya minta rokok yang gak ada, geus we lah (ya sudah lah).”
Karena
sampai sekarang aku belum menemukan alasanku buat ngerokok. Malahan aku
menantang teman-temanku, aku bilang ke mereka aku bakal ngeroko kalo ada yang
bisa ngasih aku 2 manfaat dari ngerokok buat diriku sendiri. Sampai sekarang
aku belum jua menemukan 2 manfaat
itu.
Ada
yang bilang padaku bahwa dengan ngerokok kita itu kelihatan lebih keren dan laki banget. Tapi pikirku, Ronaldo
(pesepak bola) tetap terlihat keren tanpa rokok, Joe Taslim (aktor) tetap keren
tanpa rokok, lebih keren lagi saat Joe main adengan berkelahi di film aksi
macam Fast and Furious. Denis (teman SD) juga tidak merokok, tetap keren dengan
kecerdasannya.
Masih ada yang bilang ngerokok
itu bisa bikin santai, enjoy, tenang di saat suasana hati sedang gusar. Tetap
kurang masuk akal, pasalnya aku masih bisa santai, enjoy dan tenang dengan segelas kopi saja, tanpa tembakau, aku
bisa mengatasi hatiku dari gusar, dan mengatasi hati orang lain yang sedang
gusar supaya aku tak ikut gusar. Ya
meskipun di dalam hitamnya mengandung kafein
yang juga salah satu zat adiktif.
Terlepas dari percakapan menyoal
perokok aktif maupun perokok pasif, ada satu hal yang membuatku menarik. Benda kecil
yang menarik arah bola mataku ke arahnya. Malam itu benda kecilnya berwarna
merah muda. Yang aku tahu sih dalam kamus namanya adalah ‘Pematik Api’. Tapi orang
di desaku banyak menyebutnya dengan nama Gasolin
ataupun Paneker. Kuambil pematik api
temanku itu, kuamati. Aku menyukai pematik api, bentuknya unik, praktis pula. Orang-orang
bisa ‘membawa api’ di sakunya dengan benda ini. Waktu kecil pun aku suka pematik
api, milik bapakku. Aku suka memainkannya, membakar benda-benda kecil seperti
kertas ataupun daun.
Khusus untuk malam itu, melihat
pematik api, aku jadi ingat padamu. Kamu mirip dengan pematik api, kamu unik, kamu
(hampir) selalu ‘kubawa’ ke manapun, yang jelas aku suka ‘Si Pematik Api’,
terlepas apakah kebetulan atau tidak. Tapi. Tapi, aku tidak senang saat pematik
api berlaku egois.
Kamu belum tahu kalau pematik api
kadang egois? Begini. Benda itu bisa menyalakan apapun, sederhananya adalah lilin.
Dia bisa menyalakan sebuah lilin, si lilin senang bisa menyala berkat pematik api menyalakannya,
tapi saat lilin sudah menyala terang, pematik api tidak ikut menyala dengan
lilin, pematik api malah mematikan apinya sendiri. Lilin jadi sedih, dia hanya
dibuat menyala namun setelah menyala
malah dibiarkan sendiri. Atau mungkin pematik api mau menyalakan lilin yang
lainnya?Aduh, itu cuma sebatas mungkin. Terima kasih ya, pematik api, sempat
membuat lilin menyala.
Kamu, jangan seperti pematik api,
ya. Jangan egois seperti benda kecil itu, aku tidak akan senang. Tapi tetaplah
unik dan tetaplah menarik, ya. Aku suka pematik api, aku senang sempat menyala,
selebihnya, temani aku terus menyala.
Oleh: Sugih Bhakti Ar. - Lilin

Aku juga punya pematik api
BalasHapusDia punya gas yang lebih banyak,namun apinya telah mati dan gasnya juga habis
Entah mau diisi gas lagi biar apinya menyala
Entah aku buang
Pematik api yg baru mungkin tak akan senyaman yg lama, tp yg lama pun jika diisi ulang gas, gasnya akan berbeda, u make choice and dont look back
BalasHapusAda saatnya gas habis, api lilin mati. Tak perlu mendamba abadi jika sementara sudah cukup mewakili.
BalasHapusMantap kang
Hapus