Selamat Jumpa, Ramadhan
“Perasaan baru kemarin deh
lebaran”, “baru kemarin deh dapet THR”, “baru kemarin deh maaf-maafan”, “baru
kemarin deh di-PHP-in”, dan baru kemarin – baru kemarin lainnya. Itu beberapa
kalimat yang sering aku dengar dari teman-temanku akhir-akhir ini. Kalau
menyoal tentang sudah ‘musim’ Ramadhan lagi pasti keluar kalimat-kalimat
seperti tadi, diikuti wajah sumringah orang yang mengucapnya. Entah ya, setiap
kali menjelang Ramadhan aku merasakan hal yang gak bisaa. Dari hawa-nya (suasananya),
orang-orangnya, bahkan suasana jalan
raya pun aku dirasa gak bisaa. Lebih banyak kendaraan pribadi yang lewat baik
motor maupun mobil. Aku sih menebaknya sebagian mau berbelanja untuk kebutuhan
selama Ramadhan, sebagian lagi mudik ke rumah keluarga untuk sekedar
menjalankan puasa hari pertama di rumah sanak keluarga. Tradisi mungkin ya,
karena aku pun begitu, puasa hari pertama harus bareng keluarga, hehe.
Bagi aku pribadi, Ramadhan adalah
sesuatu yang spesial. Aku berani bertaruh, kalau ada yang tidak senang dengan
datangnya Ramadhan berarti dia sedang berbohong dari hati sendiri. Ramadhan
tahun ini bahkan lebih special dari orang-orang bernama Ramadhan sekalipun.
Seperti Amalia Ramadhan, Mohammad Diki Ramdhani, dan Ramadhan-Ramadhan lainnya
yang diselipkan ke nama orang. Betapa bangganya orang tua mereka melahirkan
anaknya pada bulan Ramadhan, bukan? Yes, i
can’t describe how much i love Ramadhan.
Salah satu yang ngangenin dari
Ramadhan adalah tarawihnya. Ya. Gak tahu kalau yang lain, kalau di kampungku tarawihnya
ngangenin. Tahu kenapa? Selalu ada hal unik malam hari saat tarawih. Dari mulai
anak-anak kecil yang selalu bercanda dan bikin geram sebagian bapak-bapak. Tak
mengapa, bercandanya akamsi (re: anak kampung sini) sampai saling dorong saat
yang lain sembahyang tarawih (makanya kuda-kuda kaki anak-anak sini terlatih
dan kuat). Sebagian anak lagi suka kabur di awal tarawih dan malah
kucing-kucingan di halaman masjid, tapi saat akhir tarawih semuanya sudah
kembali ke dalam masjid untuk berburu paraf Imam pada Buku Kegiatan
Ramadhan-nya masing-masing. Selesai tarawih selalu rutin dilaksanakan tadarusan (mengaji Al-Quran bersama),
dan yang aku suka dari tadarusan adalah
ada ‘lalawuh’-nya (makanan suguhan saat tadarus). Haha. Satu fakta dari tarawih
adalah, grafik kuantitas jamaah tarawih seperti bentuk lembah; penuh di awal
bulan, berkurang di pertengahan, dan kembali penuh di akhir bulan. Dalam
istilah lain ‘taraweh pertengahan mah masjid jadi ngalegaan, da saeutikan’. Dan
aku yakin di tempat lain pun tidak jauh demikian.
Hal lain yang khas dan ngangenin
dari Ramadhan adalah ngabuburit.
Padahal di bulan-bulan selain bulan Ramadhan banyak juga yang suka sekedar
jalan-jalan sore hari atau pun hal santai lainnya yang sengaja dilakukan di
sore hari, tapi mungkin sudah kodrat umum bahwa yang namanya ngabuburit hanya berlaku saat Ramadhan.
Sejatinya ngabuburit dimaksudkan agar
tidak terasa waktu menuju berbuka puasa. Ngabuburit
itu banyak versinya. Olah raga, memasak, berdagang takjil, mencari takjil,
jalan-jalan sore, bahkan jalan-jalan dengan pacar (awas batal!), dan versi
lainnya. Di tempatku, banyak sekali yang suka ngabuburit dengan jalan-jalan sore, dari mulai anak-anak remaja
sampai orang dewasa banyak sekali yang suka jalan-jalan sore sambil sekedar
mencari takjil yang segar dan mbak-mbaknya yang segar pula, hehe. Kalau ngabuburit versiku, ya, tentative lah menyesuaikan mood.
Satu lagi! Ini yang paling
ngangenin dari Ramadhan. Ya, tepat. Lebaran. Ada yang tidak kangen dengan
lebaran? Jangan harap dapat THR deh. Melulu tentang lebaran, terlampau banyak
deskripsi tentang lebaran bagi masing-masing orang. Bagiku lebaran itu, apa ya?
Bingung juga sih. Pokonya lebaran itu, baju baru, THR, saudara, kue, opor,
rendang, ketupat, maaf-maafan, banyak lah hal-hal tentang lebaran. Tapi yang
paling aku seneng dari lebaran itu waktu ngumpulnya keluarga besar. Saudara
yang pada jauh pun pasti pulang kampung untuk merayakan lebaran bareng.
Main-main dengan keponakan yang masih bocah-bocah, tarawih bawa-bawa keponakan
yang ingin ikut ke masjid, sampai menyuapi keponakan siang-siang yang masih
belum bisa puasa sampai magrib, Ya Tuhan gogodaaa.
Tentang baju baru dan THR, ah itu sudah menjadi hal yang sedikit abstrak untuk
remaja seumuranku, ‘kan? Tidak seperti saat masih anak-anak, baju baru bisa
sampai beberapa setel. Mamah, tante, uwa,
nenek, semuanya ngasih baju lebaran. Kalau sekarang, ya paling dapat satu-dua
baju, itu pun Cuma dari mamah. THR apalagi, dulu sih iya THR pasti dapat banyak
dari sana-sini dapat THR. Hampir semua saudara ngasih THR (asalkan mau salaman
wkwk). Sekarang ya sama seperti baju lebaran, paling dapat dikasih mamah.
Bahkan keponakan-keponakan mulai nakal minta THR ke om kere ini, menyedihkan.
Sudahlah, setidaknya masih bisa makan kue yang paling enak sepuasnya saat
lebaran, kue salju, alhamdulillaah. Marhaban Ya Ramadhan.
Oleh: Sugih Bhakti Ar. – Om kere
Komentar
Posting Komentar