Bye
Lega,
hanya itu. Setelah beberapa waktu yang lalu, kutitipkan tulisan terakhir
untuknya. Isinya singkat. Soal bagaimana caraku mendeskripsikannya selama ini. Ah
tidak lama sih, jadi mungkin kosa katanya harus kuganti, menjadi soal bagaimana
caraku mendeskripsikannya kemarin-kemarin. Meskipun pada akhirnya yang kemarin
tidak jadi tulisan terakhir lagi. Karena pasalnya, sewaktu tulisan ini dibuat
masih saja dia sebagai pelaku utamanya.
Setiap
kepala selalu saja punya seseorang yang paling bisa dipercaya. Entah dipercaya
untuk sekedar dititipi dompet, atau lebih dari itu. Maksudnya lebih seperti
kamu selalu ceritakan semua hal dari setiap kejadian dan apapun itu padanya
secara berulang-ulang, apapun itu. Paham? atau singkatnya biasa kamu panggil
teman/sahabat, dll. Ya, akupun juga. Aku juga punya seseorang yang biasa aku
cekoki tentang semua hal. Tentang Mang batagor yang akhirnya berganti nama menjadi
Mang cinta, tentang gurauan soal Mang cilor yang suka pakai kemeja, tentang
siapa yang pantas jadi Dilan dan Adipati Dolken kukira, hingga pada jangka
waktu yang lumayan sering, menjadi tentang dirinya beserta kehidupannya.
Atas semua
celotehanku kemarin. Atas suara-suara lambaian yang ingin menyertakanya masuk
dalam duniaku. Aku cukup tau diri. Sejak awal, perkenalan yang bahkan belum
pernah terjadi tak serta merta menarikku untuk lepas. Namun tak juga membuatku
menjadi berani. Aku hanya merasa sedang berjalan ditempat. Tak tahu harus
melangkah maju atau mundur. Sementara itu, selalu saja tentang dirinya yang aku
cakapkan ke samping telinga kiri temanku. Bagiku yang saat itu buta informasi,
kucoba raba namanya sekeras yang kubisa. Butuh beberapa semester untuk itu. Hingga
3 atau 4 garapan tulisan ilmiahku rampung, baru namanya saja yang ku dapatkan. Pertemuan
dengannya yang selanjutnya jadi inginku paling depan.
Selanjutnya,
pertemuanku cukup sering. Jangan kau tanya pertemuan yang seperti apa. Bila dijelaskan
akan lebih panjang lagi. Sebut saja, kita bertemu, aku secara sadar melihatnya,
dia yang tidak sadar sedang aku pandangi. Begitu saja. Dan jika kau tanya bagaimana
aku ketika itu? Ya begitu. Tak cukup nyali. Setelahnya, tinggal
teriakan-teriakan yang aku sodorkan untuk dimakan oleh temanku, hingga muak. Haha.
Disini,
aku tidak akan secara lugas menceritakannya. Namanya, warna matanya, tinggi
badannya, potongan rambutnya, fakultasnya, hingga ukuran sepatunya. Karena sebenanya
memang aku tak cukup tahu. Dan aku takut ketahuan.
Tulisan
adalah salah satu senjataku ketika aku tak cukup kuat untuk berbicara. Lewat tulisan
ini, aku berjanji ini akan menjadi yang paling paling paling terakhir. Aku
belum lelah, tapi sudah harus mundur. Bukan karena takut, tapi tak cukup
berani. Untuk yang dikenal lama, pun bisa mudah melepaskan. Apalagi aku yang
memang tak pernah dalam genggaman. Aku pamit, meskipun hadirnya aku, tanpa sepengetahuannya
pula. Maka selebihnya, biarkan dia menjadi salah satu dari sekian kekagumanku yang belum
sempat aku perjuangkan. Bye
by : denarisaer
Uuuunch keren beuuud. Kusukaaaaaa.
BalasHapus