Gelisah Berpura
Kipas angin di
kamar itu masih menyala, belum dimatikan dari sore hari. Jam dinding di kamar
menunjukan pukul 8 lewat 17 malam. Aku masih saja duduk di pinggiran kasur
sambil sesekali melihat ke arah ponsel, sedang pakaianku sudah rapi memakai
kemeja navy sejak satu jam yang lalu. Aku merasakan gelisah. Aku seperti
kebingungan antara harus pergi dan tidak ingin beranjak ke mana-mana. Malam
minggu yang absurd.
Akhirnya 15 menit
kemudian aku beranjak, bukan ke rumahnya. Tapi ke sebuah mini market tak jauh
dari rumah. Hanya membeli minuman kaleng dingin dan satu bungkus rokok. Duduk
sendirian, sedikit mencolok dengan deretan kursi lain yang diduduki orang-orang
dengan pasangan bicaranya. Sedang aku hanya bicara dengan asap rokok yang menari-nari
sehabis keluar dari mulut sendiri. Lebih mencolok lagi setelan kemejaku begitu
rapi tapi kakiku hanya dibalut sandal jepit. Bajuku siap kencan, alas kakiku
tidak.
Sekali lagi aku ingat
kejadian sore tadi, aku melihat Laura di persimpangan dan ia tersenyum padaku.
Aku tidak tahan, senyum Laura selalu jadi view
favoritku. Hanya saja ada yang tidak baik, tadi Laura tidak sendirian, ia
bersama seorang lelaki. Aku tidak tahu siapa lelaki itu tapi aku merasa tidak
baik.
Layar ponselku
menyala lagi, kali ini Iren, pacarku, mengirim teks menanyakan keberadaanku,
sepertinya dia cemas. Setelahnya ia terus menelponku tapi tidak satupun
kuangkat. Aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa kecuali menghisap tembakau,
tembakau selalu mengerti kegelisahaan juragannya.
Lamunanku seketika
pecah saat pencahayaan di halaman mini market tempatku duduk menjadi redup.
Ternyata sudah jam 11 malam, sudah mau tutup. Rokok tinggal 2 batang, kantuk
belum jua datang. Lantas kuayunkan kaki selangkah, dua langkah. Malam yang
begitu membosankan dan aku harus pulang. Sampai di halaman rumah aku melihat
ada sesosok lelaki yang tidak asing duduk di kursi rotan tua. Oh, Joni,
temanku. Aku menghampirinya dan duduk di kursi satu lagi. Kami larut dalam
obrolan receh yang tidak terlalu berfaedah. Ternyata Joni menyadari
kegelisahanku, lalu aku menceritakannya. Mendengar ceritaku Joni hanya tertawa
ringan, “Laura kan sudah jadi mantanmu, yang mutusin juga kamu, terus sekarang
bukannya kamu sudah pacaran sama Iren? Jangan-jangan kamu masih sayang ya sama
Laura? Terus Iren pacarmu gimana? Sudahlah Laura sudah bukan pacarmu lagi!”
“Iren pacarku dan
aku sayang Iren, aku bahagia sama Iren. Dan. Kalau mencintai berarti harus memacari,
berarti aku tidak sedang mencintai Laura, Jon. Aku hanya merasa senang ketika
melihat Laura senyum dan merasa tidak senang saat Laura dengan lelaki lain.”
“Dasar tolol, itu
artinya kau memang masih mencintai Laura. Hanya saja kau sedikit munafik. Dan
tentang Iren pacarmu, aku rasa kamu sedang dalam hubungan yang salah jika harus
berpura-pura bahagia di depan temanmu ini. Kamu tidak benar-benar mencintainya,
aku yakin.” obrolan Joni seperti mencekikku. Memaksaku menyadari ada beberapa
hal yang dipaksakan. Sehabis malam ini dan sebatang rokok terakhir, aku harus
mengakhiri. Entah mengakhiri aku pada Iren atau aku pada Laura. Lagi-lagi
tembakau mengerti, beberapa hal tidak bisa dipaksakan, seperti perokok tidak
bisa dipaksa menghisap jenis rokok lain yang bukan favoritnya, terutama bagi
yang mengutamakan selera.
Oleh:
Sugih Bhakti Ar.
Komentar
Posting Komentar