Rentang Mimpi

Hidup kalau cuma hidup, cicak di langit-langit kamar juga hidup. Maka, hendaklah nikmati hidup, dan nikmati proses menuju dirimu kelak. Setiap manusia punya mimpi yang ingin digapai, begitu juga kau, bukan? Kalau tidak punya mimpi atau harapan sama sekali, aku sarankan sebaiknya kau mati dari sekarang. Kalau tidak punya mimpi sama sekali, mati sekarang, mati besok, lusa, atau tahun depan sama saja tidak ada yang patut ditunggu sebelum mati. Mulailah mimpi dari sekarang! Sudah? Sekarang kau harus bertanggung jawab, wujudkan mimpi itu!

Aku pun demikian. Sejak kecil aku punya mimpi menjadi dokter, masuk SMP aku mau jadi polisi, setelah SMA aku mulai berpikir mau jadi guru saja, dan sekarang aku kuliah di jurusan akuntansi. Aneh. Aku terlalu labil untuk masalah cita-cita, tapi setidaknya sejak kuliah di akuntansi aku sedikit serius terhadap mimpiku, menjadi seorang akuntan atau auditor. Aku tidak mau sepikiran dengan mahasiswa-mahasiswa yang ber-mindset-kan  “asalkan lulus saja”. Konyol, mimpinya cuma sampai lulus, aku tidak mau mati tanpa mimpi setelah lulus kuliah.

Selain mimpi yang sedikit muluk tadi, aku punya sedikit rencana untuk beberapa tahun kedepan. Saat menulis tulisan ini aku sedang menempuh kuliah strata 1 di semester 7. Dan aku akan (harus) lulus tepat waktu di pertengahan tahun depan. Setelah lulus aku akan langsung bekerja di bidang yang linear dengan (setidaknya) ijazahku. Dan poin yang pentingnya, aku tidak akan buru-buru menikah setelah lulus dan dapat pekerjaan enak. 3-4 tahun bekerja aku akan menikmati masa-masa ‘gajian’-ku. Mengirim sedikit-sedikit kepada orang tua, makan enak dengan upah sendiri, dan yang terpenting aku punya mimpi untuk berkeliling Indonesia dengan uangku sendiri, sendirian ataupun dengan teman. Dari tanah Papua sampai ujung Banda Aceh aku akan mengunjunginya. Melihat banyak hal, mencoba berbagai hal baru, menyatu dengan budaya setempat. Berbekal ransel isi baju ganti, kamera untuk mengabadikan momen, buku catatan kecil untuk menulis hal-hal unik selama perjalanan dan di tempat tujuan, serta hati dan pikiran yang sepenuhnya untuk perjalananku. Setelahnya aku akan menuliskan berbagai hal yang aku temukan di seluruh tanah Indonesia dan menjadikannya sebuah buku. Ya, mungkin karena aku gemar menulis akhir-akhir ini, salah satu mimpiku adalah menulis sebuah buku yang menceritakan tentang perjalanan separuh hidupku dengan berbagai hal sangat menarik di dalamnya.

Dalam 3-4 tahun itu aku ingin puas bermain-main dengan upah sendiri. Tapi selain untuk bermain aku juga akan menabungnya beberapa, karena setelah selesai mimpi keliling Indonesia dalam rentang waktu itu, aku akan mulai menyicil rumah sendiri untuk memulai hidup lebih serius lagi, mungkin mulai berani merencanakan untuk menikah di tahun itu atau tahun depannya.

Untuk masalah calon pendamping hidupnya, aku menyerahkan kepada Tuhan-ku yang Maha Mengerti. Aku tidak mempermasalahkan dipertemukan sebelum lulus kuliah, setelah selesai keliling Indonesia, ataupun bahkan ketika dalam rentang bermainku aku bertemu dengan wanita menarik pilihan Tuhan. Aku yakin semua itu akan berjalan sebagaimana mestinya. Dan yang paling aku yakini saat ini adalah, bahwa “aku tidak layak didapatkan oleh wanita yang biasa saja”, makanya aku tidak tergesa untuk berpacaran. Kalau menemukan yang cocok ya aku akan memacarinya, kalau belum dirasa cocok ya nanti juga Tuhan mempertemukanku dengannya. Bahkan mungkin Tuhan berrencana mempertemukanku dengan wanita itu dalam cara yang tidak biasa? Bertemu dalam passion, bisa saja.

Terakhir, tentang mimpi lainku setelah menikah nanti? Itu baru akan aku bangun nanti bersama dengan wanita teman hidupku. Ya begitulah, mimpi kecilku agak sederhana. Berangkat dari kegemaranku dalam bermain ke tempat baru dan gemar menulis, aku ingin benar-benar menjadi traveler-writer.

Oleh: Sugih Bhakti Ar. - bukan pemimpi

Komentar

Postingan Populer