Jangan Bosan Membuat Ayam Kecap, Ibu!
Begitu luas, begitu dalam, begitu tak terhingga. Beberapa orang
sepertinya akan setuju bahwa hati manusia memang ‘begitu’, seperti itu. Padahal
‘kan, kalau secara anatomi hati itu letaknya hanya di dalam dada (ataupun
perut) yang volumenya tidak seberapa. Bahkan harus berdempetan dengan organ
lainnya seperti paru-paru dan usus. Tapi ini bukan soal anatomi yang
membosankan. Hati masing-masing orang bisa memuat ribuan nama, menyimpan ribuan
rahasia, bahkan ribuan perasaan yang dibiarkan mengendap tanpa sempat diungkap.
Dan biasanya yang paling pandai dengan hati adalah manusia bernama perempuan.
***
Pada sebuah pagi yang biasa, aku mendapati ibu sedang memasak sesuatu di
daerah teritorinya; dapur. Sejenak itu juga aku melihat ibu saat beberapa tahun
ke belakang. Kuingat-ingat lagi caranya menjadi ibu terbaik sampai saat ini.
Padahal tidak ada sekolah resmi atau kursus yang mengajarkan untuk menjadi ibu,
bukan?
Aku masih ingat bagaimana ibu mengajarkanku banyak hal tentang menjadi
anak yang baik hati, menjadi anak yang tumbuh dengan kasih sayang. Tidak
seperti bapak yang mengajarkanku cara bertahan hidup, ibu lebih mengajariku
tentang bagaimana mengisi kehidupan.
Aku hampir lupa entah waktu masih di Taman Kanak-kanak atau Sekolah
Dasar kelas 1 ibuku mulai mengajariku sembahyang (baca: sholat). Tapi aku masih
sangat ingat saat pertama kali ibu memulai ‘mata kuliah’-nya tentang tata cara
sholat, “Sini, dek, rebahan di kasur di samping ibu! Adek ikutin ibu, ya! Usholli . . .” sedikit-sedikit, sampai
selesai salam. Itu dilakukannya setiap hari sampai aku hafal seluruh bacaannya.
Sehingga di sekolah saat pelajaran agama bagian menghafal bacaan sholat aku
justru lebih dulu hafal dari temanku yang lain, aku hanya mengulang hafalannya.
Aku juga masih ingat bagaimana ibu mengajariku bangun subuh dan pergi ke
masjid untuk sholat berjamaah. Saban subuh aku dibangunkan dan ibu mengantarku
berjalan kaki sampai ke dekat masjid. Waktu kecil aku sedikit penakut saat
gelap, sehingga ibu rela menemaniku sampai ke dekat masjid agar aku sholat
subuh berjamaah, sekaligus belajar melawan rasa takut akan gelap. “Dek, bangun!
Ayo sholat subuh di masjid, ibu antar sampai dekat masjid, nanti pulangnya
bareng aja sama bapak-bapak yang rumahnya satu arah.”
Dalam masalah belajar, ibu tidak pernah mau kompromi pada anaknya. Tidak
jarang ibu dan bapak berbeda pendapat, bapak biasanya menenangkanku “tidak usah
menghapal terlalu keras di rumah, dek! Asal saat guru menerangkan kau mengerti,
itu sudah cukup.” sambil tersenyum meyakinkan, alisnya sedikit diangkat.
Tapi ibu selalu menentang, “jangan dengarkan bapak, ayo belajar yang
bener, di sekolah ataupun di rumah sama saja, harus rajin belajar! Kalau juara
kelas nanti ibu kasih hadiah!”. Bahkan setiap mau ada ujian ibu selalu
menyembunyikan mainan-mainanku agar aku mau belajar. Sampai di waktu ini aku
sadar, guyonan bapak dan suruhan ibu adalah dua hal yang saling melengkapi.
Memperhatikan guru sampai mengerti sangatlah penting, dan belajar sendiri di
rumah tidak kalah penting.
Aku ingat betul sedari kecil sedikit-sedikit aku diajarkan kemandirian
oleh ibu sejak SD, SMP, SMA; “Dek, mulai besok belajar nyuci piring-piring
kotor, ya! Kalau mau nanti ibu kasih 20 ribu tiap bulan. Sini lihat ibu, begini
cara mencucinya.”
“Dek, kamu kan katanya nanti mau kuliah di kota, dari sekarang belajar
nyuci baju sendiri, ya! Tapi jangan pakai mesin cuci seperti ibu, adek belajar
cuci bajunya manual pakai tangan!”
“Dek, besok Senin, kamu belajar nyetrika baju sendiri buat besok,
sekalian sama batiknya buat rabu, tuh minta diajarin bapak. Bapak nyetrikanya
paling rapi.”
“Dek, nanti siang ibu sama bapak gak langsung pulang, mau nengok nenek,
pulangnya sore. Ini di lemari ibu kasih uang buat adek. Nanti makan sendiri,
ya! Di kulkas ada telur, ada mie juga. Atau beli aja. Jangan main-main dekat
sumur. Kalau mau keluar rumah jangan lupa dikunci!” dan masih banyak lagi
dek-dek yang lainnya tentang belajar mandiri.
Ada satu kebiasaan yang paling aku suka dari ibu, yakni tentang perizinan
mainku. Ibu tidak pernah melarangku main ke manapun. Ibu bahkan mengerti betul
bahwa anaknya yang ini senang sekali menjauh ke tempat-tempat yang baru.
Jawaban ibu selalu sama setiap kali aku meminta izin untuk pergi ke manapun,
“Ya tinggal pergi aja kalau adek punya bekal, asal jangan ngerokok! Dan jangan
lupa sholat!”. Siap dimengerti, ibu rock ‘n roll. Sepertinya ibu percaya,
mereka tempatku bermain tidak pernah semenenangkan rumah tempatku pulang.
Satu hal juga yang paling membekas padaku dari ibu. Petuahnya masih
terdengar jelas di setiap hariku, “Kamu harus pintar berhemat, dek! Ingat, buat
diri sendiri harus dibiasakan ngirit, tapi kalau buat orang lain jangan
itungan!” ibu selalu ajarkanku bahwa tidak pernah ada yang menjadi miskin
akibat berbagi. Aku sadar gaji ibu hanya cukup untuk beli tahu, tapi kata ibu
bagaimanapun juga bersyukur adalah sebuah keharusan. Sehabis bersyukur Tuhan
selalu memberi lebih, katanya.
Beranjak dewasa ibu masih betah menjadi orang paling menaruh rasa
khawatir padaku. Sedikit banyak ibu ikut andil dalam urusanku yang mulai rentan
mengagumi manusia lawan jenis. Ibu tidak terlalu suka jika harus mengingat
banyak nama perempuan -yang aku ceritakan padanya-, ibu cuma berpesan, “Dek,
perempuan mana pun di dekatmu, mau kekasih atau teman sekalipun, ibu tidak
pernah suka jika kau tidak melihatnya sebagai perempuan. Kau harus ingat ibu
ini seorang perempuan, kau tahu betul bagaimana rasanya jika ibu ada yang
menyakiti. Nah, kalau kau menyakiti perempuan, berarti kau juga menyakiti ibu.
Dan untuk urusan kau punya kekasih, ibu tidak terlalu mempermasalahkannya. Kau
sudah besar dan tahu mana yang membuatmu tambah baik mana yang tidak, mana yang
perlu kau perjuangkan mana yang tidak. Ibu juga tidak mau mendengar banyak nama
perempuan. Ibu tahu betul kau bukan tipe yang suka menceritakan masalah
asmaramu pada ibu, kau lebih suka mencernanya sendiri. Sudahlah, nama perempuan
yang paling sering dan paling serius kau ceritakan ke ibu berarti nama itu yang
akan ibu paling ingat dan ibu akan ikut doakan nama itu.”
Indra penciumanku membawa lamunanku kembali membumi. Semua masakan ibu
aku selalu suka, tapi pagi ini aku mencium wangi masakan ibu favoritku sejak
kecil; ayam kecap. Masakan paling enak se-dunia yang fana. “Bu, ini uang di
atas kulkas aku ambil ya, mau beli kerupuk ke warung depan.” Ayam kecap buatan
ibu tidak pernah benar-benar lengkap kalau belum ditemani kerupuk merk
Padasuka. Selamat makan, bu! Tetaplah sehat dan tetap menjadi ‘ayam kecap’
bagiku.
Selamat Ulang Tahun!
Oleh: Sugih Bhakti Ar.
Komentar
Posting Komentar