Tanpa Menunggu Mendung
“Almost one year. Hampir tiap minggu ya kita
ke sini terus.” seraya Nugi membuka jaket denimnya. Pacaran tahun kedua,
perasannya masih sama, pesanan minumnya juga hampir selalu sama, terutama
Yoanna.
Gadis tidak
begitu semampai itu sudah duduk lebih dulu, kursi dekat jendela yang kalau sore
selalu dipelototi matahari dari barat. “Iya juga ya, kalau gak ngerumpi di
rumah atau jalan ke luar kota, kita paling di sini-sini lagi.”
“Ya kamu
juga sih. Tiap ditanya mau main ke mana pasti ngajaknya ke sini. Sjahtra aja lah, enak minumnya (Nugi
menirukan gaya bicara Yoanna yang cempreng).” Nugi meledek Yo tapi Yo acuh,
sudah kebiasaan Nugi. “Aku pesen dulu ya. Kamu minum apa?”
Yoanna:
“Aku Halmahera aja.”
Nugi: “Aku Halmahera aja (kembali menirukan sekaligus ngomong bareng, meledek Yo yang pesanannya
tidak pernah berubah).”
“Ih Nugi.
Tau ah ngeledek mulu!” ketus Yo sambil sedikit menghentak meja dan melotot.
Nugi tidak
menjawab, hanya berlalu dan memesan. “Mas, pesen Halmahera 1, Ice Charcoal 1,
sama kentang goreng deh 1.”
Ya, hampir
setahun nongkrong di sini, pesanan Yo hampir tidak pernah berubah. Halmahera;
segelas es kopi berbalut penasaran. Creamy
texture adalah khas. Tidak begitu istimewa, hanya saja semacam primadona.
Ah, Halma.
Nugi
kembali ke meja, duduk di depan Yo seperti biasa. “Kenapa sih kamu demen banget
sama Halmahera? Nggak mau nyoba yang lain apa?”
“Ya aku
nyobain juga kali yang lain. Cuman ya gimana ya, soal selera aku emang biasanya
menetap.”
“Halah sok
idealis banget.” Bibir Nugi meledek Yoanna.
“Ih serius!
Aku kalau udah nyaman sama satu hal gak pernah ganti tau.”
“Termasuk
sama aku dong?”
“Ih,
najis!” Bola mata Yo berputar gestur meledek balik.
“Tuh kan,
suka jual mahal nih cewek Aries.”
Percakapan
yang tidak begitu istimewa, hanya saja tidak pernah membosankan. Salah satu
mencoba sedikit romantis, yang satunya menolak humanis. Yang satu manja
merengek, yang satunya malah meledek.
Ada
benarnya juga kata orang-orang, hubungan beranjak dewasa bukan lagi menyoal mesra-mesraan,
pamer-pamer, menye-menye, romantisme, apalagi metabolisme. Hubungan beranjak
dewasa lebih ke hal-hal simpel tapi past
tense. Eh? Semisal lebih saling mengerti, saling jaga komitmen, sampai
saling “hari ini giliran aku yang bayar”.
Konon, yang sulit bukan membuat komitmen, tapi bertahan pada komitmen yang
dibuat, itulah yang agaknya sulit. Orang yang tidak sungguh-sungguh akan sulit
‘berdiri’ pada komitmen. Ini tentang ko-mit-men.
“Nu, liat
deh! Baristanya sepasang gitu cewek-cowok, keren ya mereka.” Yoanna menunjuk ke
arah bar dengan keningnya.
Nugi sedikit
memutar badan, “Iya keren. Ya emang harusnya gitu sih, jadi ada sisi menariknya
kalau ada ceweknya. Gak bosen gitu kesannya.” Sepasang barista tetap pada
pekerjaanya tapa tahu sedang dibicarakan. “Denger-denger yang cewek udah sebulanan
ya nge-bar di sini?”
“Iya
katanya. Aku lihat-lihat juga barista yang cewek sering bareng nge-bar-nya sama
mas yang itu mulu deh. Aku yakin salah satu dari mereka ada yang baper, atau
bahkan udah pacaran kali ya?” jiwa high
data transfer a la ibu-ibu komplek mulai keluar dari Yoanna.
“Hus! Kamu malah gosip, sotau! Ya mereka
emang karena kerjaan aja jadi sering bareng. Gak mungkin lah ada yang baper
kalo mereka profesional mah.”
“Tapi kan gak
ada yang gak mungkin kalau sering bareng, termasuk timbul perasaan, sekalipun
dengan alasan profesional.” Sedikit berlebihan, tapi ada benarnya perkataan Yo
barusan. Tak ada yang tak mungkin kalau sering bareng, termasuk timbul
perasaan, sekalipun dengan alasan profesional.
2 bulan
kemudian
Tempat yang
sama, orang yang sama, namun perasaan Nugi yang sedikit berbeda.
“Nu,
boomerang yuk!” Yoanna mengangkat ponselnya dan mengarahkan kamera depan.
“Nggak ah, Yo.
Lagi males.” Nada bicara Nugi datar, ada yang salah.
“Males?
Tumben kamu ada malesnya. Kamu kenapa sih datar banget”
. . . Nugi
diam tidak merespon.
“Nu?”
“Yo,
makasih ya.” Senyum Nugi yang tidak biasa, tapi sangat manis dari biasanya.
“Buat?” Yo
mulai keheranan, ah, lebih tepatnya tidak enak hati.
“Makasih
buat semuanya. Udah nemenin aku selama hampir 2 tahunan ini. Kamu baik banget
sama aku.”
“Nu? Are you okay?”
Nugi tetap
pada narasinya, tanpa menjawab pertanyaan Yo satu pun. “Aku minta maaf Kamis
kemarin gak sengaja lihat pop up
notifikasi di ponselmu waktu kamu ke belakang. Aku penasaran dan malah buka chat-nya. Padahal biasanya aku gak
pernah buka-buka isi chat kamu.”
“Hah? Dari
siapa?”
“Namanya
Rido”
“Nu, itu
kan partner kerjaan aku waktu project
photoshot bulan kemarin. Kamu kan juga tahu.”
“Isi chat-nya ada sayangnya. ‘Hati-hati sayang’ kalau gak salah.”
“Dia emang
suka gitu, Nu. Bilang-bilang sayang kayak udah biasa.”
“Aku juga
cowok, Yo. Nggak mungkin biasa aja, di atas chat
itu kamu pamitan ke dia mau pergi keluar, sambil kamu ngirim selfie ke dia, gak
mungkin gak spesial, kan?”
Sudut mata
Yo mulai basah. “Nu, maafin!”
“Iya, udah
aku maafin.”
Kedua
tangan Yo menarik tangan kanan Nugi, “Serius, Nu! Aku nggak ada apa-apa, lagian
dia cuma partner aku selama sebulan, mana mungkin aku baper sama dia.”
“Katamu
waktu itu, gak ada yang gak mungkin kalau sering bareng, termasuk timbul
perasaan, sekalipun dengan alasan profesional.” Kalimat Yo dua bulan lalu
terbukti, pada dirinya sendiri. “Pas di meja ini juga kamu bilangnya.”
Tangis Yo
pecah namun tidak bersuara, hanya air mata, hanya menangis, tapi sesak. Nugi
melepaskan tangan kanannya dari genggaman tangan Yoanna, lalu memainkan
ponselnya.
Beberapa
menit hanya tangisan Yo yang menemani keduanya, sekaligus sama-sama sesak.
Yoanna sesak dengan menangis, Nugi sesak dengan melepas.
“Yo, aku udah
ngehubungin Jeje barusan, aku suruh dia ke sini. Maaf ya aku gak bisa anterin
kamu pulang, aku ada urusan dulu. Nanti kamu pulang sama Jeje aja.”
Tangis
Yoanna makin dalam, makin tersedak, tangan sedikit bergetar. Namun berusaha
tenang walau masih terbata-bata, “N. . .Nu.”
“Aku udah
maafin semuanya Yo, kita tetep temenan kok, kan tadinya juga temen. Aku juga
minta maaf ya banyak salah. Makasih juga buat semuanya.” Nugi memakai jaket denimnya
dan berdiri,
“Aku pamit ya, Yo. Bye.”
Yoanna
menutup wajah dengan kedua tangannya. Beberapa hujan tidak menunggu mendung
lebih dulu. Beberapa hal memang tidak menunggu memburuk untuk selesai. Yup, beberapa hal harus selesai ketika
sedang di titik paling baik. Tak ada yang tak mungkin. Who knows, right?
Oleh: Sugih Bhakti Ar.
Komentar
Posting Komentar