Kamu Tahu Apa Yang Membuatku Terus Menulis?

Cuma iseng. Iya iseng, gak pernah kepikiran buat nulis banyak-banyak, awalnya gitu. Karena kata tetangga kost-ku biasanya cerpen yang diangkat dari pengalaman sendiri suka lebih menarik. Khususnya buat yang bukan penulis ulung, jangan disamakan dengan Raditya Dika, Sir Arthur Conan Doyle, Suzanne Collins ataupun Suzanne-suzanne lainnya. Biasanya feel-nya lebih dapet, karena si penulis sendiri yang merasakan dan berada dalam cerita yang diangkat tersebut, lalu diceritakan ke dalam bentuk tulisan ‘iseng’-nya. Apalagi jika cerita yang diangkat adalah cerita ringan sehari-hari yang banyak dialami oleh kebanyakan orang juga, masih katanya tapi ya, tapi aku setuju, hehe.
          Aku pun macam itu, biasanya nulis dari pengalaman sendiri yang kuanggap (lumayan) menarik, biasalah amatiran. Paling jauh juga tulisanku cuma bikin penasaran ending-nya, seperti tulisan ini, gak sampai bisa bikin senyum yang baca, apalagi nunggu tulisan selanjutnya. Ceritanya juga gak seru-seru amat, gak ada balap-balapannya, gak ada tonjok-tonjokannya, apalagi peluk-pelukannya, “biasa aja, ah.” kata Sir Arthur Conan Doyle di alam bawah sadarku, mengomentari tulisanku.
          Kata temanku yang anak sastra –nama bapaknya Asep Sastra Saputra- katanya “Kamu udah bisa disebut penulis yang keren kalau kamu udah bisa nulis dari sudut pandang orang lain, dari cerita orang lain, memposisikan jadi orang lain, bukan melulu tentang diri sendiri. Secara gak langsung kamu udah bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, lalu digambarkan ke cerita. Kalau cuma bercerita diri sendiri sih, perasaan sendiri langsung ditulis, itu gampang semua orang bisa.” sombong kali cakap temanku ini, hih. Tapi aku percaya sih, dia anak sastra, emang asli dia mahasiswa jurusan sastra sih, wkwk yang tadi sedikit bergurau.
          Boro-boro memenuhi spesifikasi penulis keren kata anak sastra tadi, sampai tulisan ini rampung ditulis saja sudah ‘uyuhan’. Sejauh ini gak pernah lebih dari sekedar iseng sih kalau nulis. Dari sebuah bad mood, mumet, ada yang mau diungkapkan, lihat hal keren, denger cerita orang yang menarik, diskusi dini hari, ya sudah aku tulis di waktu (sangat) senggangku, tanpa lupa kopi yang diaduk searah jarum jam, harus ada, harus diaduk. Sederhana saja, ‘kan? Gak perlu nyari-nyari inspirasi sampai ke negeri Cina, toh. Tanpa menghilangkan munafik, ada harapan tulisanku banyak yang baca, seenggaknya teman satu blog-ku membacanya.
          Gak ada kiblat khusus dalam aku menulis, dalam gaya tulisanku, dalam jenis hurufku. Cuma sering membaca saja tulisan-tulisan orang, koran juga tulisan, ‘kan? Tanpa mentor khusus juga, menulis ya menulis, menglir begitu saja seperti si kuning mengambang . . . ppffftt, maaf, ‘meng-alur’ begitu saja tentang apa yang mau aku tulis, apa yang ada di isi tengkurak lonjongku. Aku masih ingat yang ini, “mau pandai bicara sering-seringlah mendengar, mau pandai menulis sering-seringlah membaca”. Tapi kok gak pandai-pandai ya menulisku, hehe gak terlalu sering baca juga sih. Aku bukan kutu buku, rambutku juga gak ada kutunya, jadi aku gak ada hubungan apa-apa sama kutu, skip.
          Menulis juga bukan hobi utamaku, aku lebih menyebut hobi ke main PS wkwk. Tapi ya dari pada aku nulis yang gak jelas di linimasa media sosialku, dan menulis di caption foto instagram juga gak mungkin panjang-panjang, sudahlah aku menulis saja di blog isengku kalau sedang gak ada tugas kuliah. Tapi yang jelas, itu semua, yang tadi, bukanlah alasan utamaku tetap (mau) menulis. Kamu tahu apa yang membuatku terus menulis? Jawabannya ada di kata pertama pada judul.


                                                                   Oleh: Sugih Bhakti Ar. – pengagum.

Komentar

Postingan Populer