Liburan, Kapal Laut, dan Sedikit ‘Boatlag’

Kata temanku liburan itu yang terpenting adalah 2 hal ditambah 1 hal tambahan, yang pertama tempat baru dan yang kedua adalah kamera. Untuk urusan memosting di sosial media berupa file hasil perpaduan kamera dan tempat baru tersebut bisa lah sedikit belakangan (gak jauh posting di Instagram dengan menyertakan keterangan tempatnya). Nanti saja di-posting di rumah sambil tersambung ke jaringan WiFi dan tersambung ke charger jika daya smartphone sudah rendah sehabis pulang main. Oh ya, aku lupa, untuk hal tambahannya adalah aplikasi editor foto di HP untuk sedikit memoles hasil jepretan kamera 5 mega-pixel tadi agar lebih menarik, untung belum di-upload.
                Untuk aku sendiri liburan bukan melulu menyoal tempat tujuan dan sudut arah kameranya, tapi meter per meternya aku selalu menikmatinya. Karena main pun gak boleh main-main. Bukan berarti kuhitung berapa meter jarak aku liburan ya, tapi, makin jauh makin keren sih, katanya, dan kataku.
                Seperti Sabtu kemarin, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi. Untuk pertama kalinya aku terapung di atas air, air asin, iya laut. Kenapa ya air laut asin? Mungkin karena bercampur dengan keringat dan air kencing ikan. Tapi, ah sudahlah itu tak penting-penting amat menurut ‘Dolpino’. Selalu ada yang pertama untuk setiap hal, begitupun aku pertama kalinya naik kapal feri untuk ke pulau seberang, ceritanya sih mau liburan. Sebenarnya untuk menaiki benda terapung di atas air bukan hal pertama untukku. Di desa aku pernah naik perahu waktu masih SD, sekedar main perahu dengan teman-teman menggunakan perahu kayuh, belum pakai mesin, makanya tangan teman-temanku kuat, aku enggak. Di pantai pun aku pernah naik banana boat yang ujung-ujungnya dijatuhkan juga.
                Beberapa jam sebelum naik kapal feri aku pikir bakal sama saja dengan naik perahu biasa di desa. Tinggal duduk manis dan melihat pemandangan sekitar, sambil percaya bahwa perahu yang dinaiki tidak akan karam seperti Titanic. Cukup menyenangkan menikmati angin yang menerpa badan dan menikmati ombak-ombak kecil dari air sungai desa. Dan saat waktunya naik ke kapal feri sekitar jam 06.28, ternyata sama saja, sama harus pegangan saat melangkahkan kaki naik ke kapal di dermaga. Setengah tujuh aku sudah di atas kapal siap ke pulau tujuan liburan, karena kata penjaga tiket kapalnya akan berangkat jam 07.00. Sudah habis kopi satu gelas dan roti satu akhirnya kapal beranjak meninggalkan dermaga untuk menuju pulau A. Sementara jam tanganku menunjukan jam 07.49, katanya kapal cuma telat satu jam itu hal biasa, cuma?
                Belum lama kapal ‘berlayar’, aku sempat gak enak perut dan mual. Padahal sebelumnya aku gak pernah ‘mabuk’ muntah saat dalam perjalanan ke manapun, bahkan jika teman di sampingku muntah. Ini kali ya, yang namanya mabuk laut. Kalau mabuk darat naik mobil mualnya karena jalan mobil yang berbelok-belok, sedangkan ini karena kapal yang terombang-ambing naik turun akibat ombak air laut. Perlu diketahui ya ombak di tengah laut ternyata lebih besar dibanding di pinggiran, sangat terasa ketika naik kapal. Tapi aku gak sampai muntah, lho. Aku bisa menahan mualnya, sederhana saja, kamu tinggal sejalan sama ombaknya, sama ombang-ambing kapalnya. Kamu tahu adaptasi, ‘kan? Nah, itu. Tapi nampaknya setelah turun dari kapal aku bakal masih merasa sedikit ‘boatlag’.
                Sudah sejam di atas kapal aku sudah tak merasa mual lagi. Menurutku kapal itu keren, kebayang ‘kan kapal itu beratnya berapa ton? Berat sekali. Tapi kapal bisa terapung di atas air, penumpangnya gak tenggelam, bahkan gak basah, terserah lah mau jawab pakai teori ilmiah ataupun berkat bantuan jin di bawah kapal. Sealin itu kapal laut juga gak pernah kena macet, mau musim liburan mau musim mudik, kapal laut gak pernah kejebak macet. Kau tahu sendiri lah kalau naik mobil kejebak macet rasanya gimana, semuanya kerasa hehe. Ada lagi yang keren dari kapal laut, ‘dia’ gak harus gonta-ganti ban seperti mobil, lumayan irit budget lah.
                Banyak yang bisa dilihat kalau kamu naik kapal dan diam di luar. Waktu itu saja aku sering sekali lihat pesawat terbang melintas di atas. Mungkin kebetulan itu memang jalurnya pesawat kota satu dengan tujuan kota lainnya. Kalau di airnya aku sering lihat burung pemangsa ikan yang sedang memangsa. Baru lho aku lihat langsung burung itu beraksi, burung apa ya lupa lagi namanya. Yang jelas seru sekali melihatnya, si burung terbang tak jauh dari permukaan air, dan saat melihat mangsanya (red: ikan) burung itu langsung meluncur kencang ke air dan sekaligus masuk ke dalam air beberapa detik. Hingga akhirnya kudapati burung itu kembali keluar dari air dan benar saja, di paruhnya sudah ada ikan kecil hasil tangkapannya. Aku senyum sendiri melihat kejadian ‘pembunuhan’ itu, burung bisa masuk ke air dan terbang keluar lagi. Lantas kutulis dalam buku catatan kecilku tentang fenomena tadi, mau kuceritakan ke dunia maya.
Tak jauh dari situ aku melihat hewan lain, ular laut, burung elang di atas, dan penumpang-penumpang lain yang juga sedang menikmati perjalanan airnya. Bahkan di depan kulihat ada pasangan suami-istri yang saling rangkul dan duduk santai, sesekali berfoto selfie berdua; groufie. Nampaknya mereka adalah pasangan yang baru menikah, mesra sekali. Tunggu, kenapa aku tahu mereka suami-istri? Tebakan saja sih, hehe, karena ada cincin melingkar di jari manis lelakinya.
Di depan kulihat ada pulau, ah mungkin itu pulaunya. Sudah 3 jam ternyata perjalananku di kapal. Gak beda jauh naik kapal sama naik perahu kecil biasa kok, bedanya cuma lebih asyik, lebih ‘goyang’, mualnya lebih kerasa mau muntah, lebih banyak cerita, ah ternyata banyak juga toh bedanya, hehe. Ceritaku belum selesai padahal, tapi sudahlah, sudah mau sampai. Sebelum sampai kukasih tahu ya, kalau duduk di luar kabin kapal pakailah baju tangan panjang dan celana panjang, jangan lupa kacamata hitam. Mataharinya langsung menyorot, lumayan panas bisa bikin kulit gosong. Oh ya, satu lagi, bawa bekal makan minum yang cukup, kalau gak mau-mau amat gak usah jajan di kapal, harganya mahal sekali, aku cuma beli satu air mineral 600 ml harus bayar delapan ribu, gila ‘kan. Kalau kata temanku mungkin itu harga ombak, makanya mahal. Sudah dulu ya, mau sampai, netbooknya mau kututup. Jangan lupa selfie, abadikan setiap momen main; liburan. Dan ingat tadi kataku, main pun jangan main-main.



                                                                                                                Oleh: Sugih Bhakti Ar.

Komentar

Postingan Populer