Curang Sekali, Lampu Kamar Ikut Cemburu

Dugaanku saja.
Berawal dari diciptakannya Hawa untuk Adam. Dari potongan tubuh Adam sendiri.
Diciptakannya Srikandi untuk Arjuna. Dari potongan kayu bekas membuat wayang Arjuna pula.
Terciptalah perasaan-perasaan yang membuat gusar setiap pemilik hati.
Kasih.
#
Kebetulan yang sangat menyenangkan. Berpapasan denganmu.
Kesialan yang begitu indah. Mengenalmu.
Sedikit mengkambing hitamkan takdir. Kuanggap mengagumimu adalah takdir. Mau tidak mau harus aku terima.
Kalaupun bukan takdir, aku tetap mau.
#
Kau yang pandai bersolek atau aku yang gemar memuji?
Kau benar-benar cantik pagi itu. Kutahan agak lama kelopak mata, agar tidak menutup, setengah detik pun.
Kalau menatapmu adalah buang-buang waktu, aku mau waktuku terbuang banyak.
Kalau mengagumimu adalah dosa, aku mau setiap hari berdosa.
#
Hingga aku tak terjaga lagi.
Hey, jangan pergi dulu! Aku belum selesai! Sialan, kau curang!
Kau begitu singkat, aku belum sampai memilikimu.
Kau begitu lama, aku sudah sampai merindu.
Kembali aku diasingkan lampu kamar yang mati, dia cemburu padamu. Angin tak lagi sudi masuk kamar, dia teman baik lampu.


Oleh: Sugih Bhakti Ar.

Komentar

Postingan Populer