Cerita dari Mimpi (bagian 3): Bangun dari Mimpi
Tahun ke-3. Aku mulai berani jahil, diam-diam aku punya
kontakmu. Entah dari hasil nyuri atau minta lewat teman. Bukan mau meneror
ataupun order belanja online ke dia, tapi hanya sampai sebatas iseng. Ya
barangkali kapan-kapan aku lagi bocor ban di jalan bisa minta tolong ke dia,
atau bapaknya.
Sabtu malam itu masih selow seperti biasanya. Nongkrong
pahit sama teman-teman baik. Sebagian ngerokok aktif sebagian lagi ngerokok
pasif. Ditemani beberapa gelas kopi hitam, tanpa susu, karena yang nongkrongnya
cuma laki-laki. Skip. Belum terlalu larut, kopi sudah mulai dingin, tapi
obrolan menolak dingin. Tetap hangat, tetap tentang cewek-cewek di meja
seberang milik orang.
Seperti kebanyakan orang, makin larut makin iseng stalking. Terserah mau stalking mantan, musuh, gebetan, ataupun
okunsoy (re: ofisial akun asoy). Pun aku, iseng-iseng nakal. Stalking galeri fotomu di instagram,
barangkali ada kiriman foto baru. Dan. Hey, ada yang beda. Bukan kiriman baru,
tapi beberapa foto di akun istagrammu hilang. Kau sengaja menghapusnya? Benar
saja, beberapa foto yang dihapus itu foto-foto dengan pacarmu. Kenapa, ya? Ah,
jangan senang dulu. (Senang?). Mungkin kau hanya ingin merapikan feeds. Sudahlah, aku keluar dari
instagram.
Sementara teman-temanku masih asik ngobrol, isengku
berlanjut. Aku stalking linimasa
kontakmu karena penasaran sedang ada apa denganmu. Tidak salah lagi,
penasaranku makin menjadi-jadi. Beberapa posting-an
terakhirmu seperti sedang galau. Kau tak jarang me-repost kiriman-kiriman tentang kegalauan. Naluriku langsung berubah
menjadi naluri ditektif, Shinichi Kudo. “Dari hasil analisa seorang ditektf
tentang beberapa keanehanmu di media sosialmu, Kudo membuat sebuah hipotesis
bahwa kau sedang ada masalah dengan pacarmu. Atau bahkan sampai putus, benar?”.
Ah, terlalu berlebihan, dan terlalu berharap.
Selain ditektif, naluri seorang kapitalis juga keluar.
Memanfaatkan peluang yang ada. Hehe. Isengku malam itu memuncak, kubuka
percakapan lewat chat di media
sosial. “Kenapa atuh Riiin, kayak yang lagi galau status-statusnya?”, kukirim
pesan itu ke kontakmu tanpa basa-basi. Setengah tak percaya, kau membalasnya
dengan hangat. Kau merespon baik dan tidak butuh waktu lama chating-ku denganmu malam itu begitu
cair dan asyik.
Semenjak isengku malam itu, aku jadi sering chating denganmu. Dan sedikit-sedikit
kutanyakan kabarmu dengan pacarmu. Hipotesisku tidak meleset, kau bercerita
bahwa kau dengan pacarmu sudah tidak ada hubungan spesial lagi a.k.a. putus. Tentang
alasanmu kenapa bisa putus aku tidak terlalu menanyakannya lebih jauh, itu
urusanmu. Yang jelas sejak tahu kau putus, asaku tentang penantian terhadapmu
mulai cerah, hahaa.
Tidak terasa aku jadi sering sekali chat bahkan telponan denganmu. Hingga aku merasa kita semakin dekat
dan hati kecilku mulai egois menuntut kepastian. Dam kuputuskan pada suatu
malam untuk puitiskan sayang nyatakan cinta. “Rin, kamu harus tahu. Sejak dua
tahun lebih ke belakang, sejak mataku mengarah padamu, aku malai beranikan diri
buat mimpi. Saat aku tahu kau sudah pacaran, kau tetap tema dalam mimpiku yang
ini. Kau adalah mimpiku. Dan sekarang, aku mau bangun, gak cuma mimpi. Kamu mau
‘kan keluar dari mimpiku dan ikut bangun?”
“A Bara yakin? Aku sih deket kayak gini aja udah seneng,
udah nyaman. Sebenarnya aku juga sedikit takut, kalau misalkan kita pacaran
nanti ada beberapa sisi yang jadi beda. Ya aa tahu sendiri lah pacaran itu
bukan cuma soal saling sayang, tapi juga saling memegang komitmen awal. Pacaran
itu gak cuma manisnya doang, harus sama pahitnya.” Benar jug. Pandai betul
Arini soal ini, pengalama kali ya, pacaran lama sama pacarnya yang kemarin.
Kalau bukan dari pengalama ya dari mana lagi. Sampai sekarang belum ada
sekolahan yang membuka kelas tentang cinta.
“Iya makanya aku berani nembak kamu juga aku udah pikirin
mateng tentang segala kemungkinan kalau kita pacaran, Rin. Dan hati sama logika
aku udah sepakat mau menetap di kamu. Kamu tahu ’kan aku naksir kamu sejak
kapan. Kamu masih pacaran sama pacarmu pun aku suka sama kamu.” Aku berusaha
meyakinkan Arini tentang keputusanku. Aku yakin Arini juga sama, ada rasa lebih
ke aku.
“Terus bentar lagi juga aku lulus SMA. Aku kan rencananya
mau daftar ke univ di Semarang, kalau misal aku keterima di Semarang berarti
kita LDR. ‘kan. Aa bisa LDR? Aa juga belum pernah LDR, ‘kan? Banyak lho temen
aku juga yang LDR sama pacarnya dan yang aku tahu kebanyakan yang LDR biasanya gak
bisa bertahan. Aku takut itu kejadian sama kita kalau misal kita LDR.”
“Aku juga udah mikir ke sana kok. Kamu juga jangan ragu buat
ngejar rencana kamu ke Semarang. Kamu harus keterima di Semarang, jangan nanggung
gara-gara aku gak di Semarang. Aku tahu kamu itu tipikal pemimpi yang mimpinya
harus kecapai. Kalau aku sendiri misal harus LDR aku siap kok, Rin. Aku bisa
jaga hati jaga komitmen. Kalau aku udah dapetin mimpiku selama ini kenapa aku
harus tidur lagi dan nyari mimpi yang lain. Gak ada alesan buat ngelepasin
mimpi gitu aja. Karena aku mencintaimu tanpa karena.” Katanya setiap hal ada
alasannya. Tapi perihal aku mencintaimu, aku belum menemukan alasan kenapa. Aku
mencintaimu begitu saja, cinta. “Atau kamu yang ragu sama diri kamu sendiri
kalau misalkan kita LDR? Kamu takut gak bisa jaga hati kamu sendiri, Rin?”
“Enggak gitu, a. Sejak kita deket aku ngaku aku juga ada
rasa ke aa kok. Aku nyaman sama aa, aku seneng kalau lagi sama aa. Aa juga
pinter buat aku senyum, ketawa. Aku seneng. Aku juga bisa jaga hati kok kalau
emang udah sayang. Mungkin aku cuma ketakutan aja kalau aku menaruh percaya pada
manusia.” Arini gitu, dari dulu banyak khawatirnya. Mungkin kalau menanak nasi
pun ia akan khawatir nasinya tidak matang.
“Jangan terlalu naif, Rin. Ya emang jangan terlalu percaya
juga sama yang namanya manusia. Gini deh inget-inget. Trust no one, but i promise. Aku gak bisa janji aku bakal cinta sama kamu
sampai kapan, aku cuma manusia biasa. Aku gak bisa ngasih cinta yang cantik
kayak cerita di komik-komik. Dalam kamusku juga gak ada i love you forever, yang ada i
love you so much, Rin. Yang jelas saat ini aku cinta sama kamu.”
“Aku ngerti, a. Aku juga udah yakin kok sekarang, hehe.”
MAKSUDNYA? AKU DITERIMA, RIN? HAHAA.
“Jadi? Kita pacaran?” Aku berusaha minta penjelasan detail,
aku belum percaya.
“Hmmm, iya gitu mungkin, a.” Hey, aku diterima. Cintaku berbalas.
Aku pacaran dengan Arini. Ini bukan mimpi, ‘kan?
“Yes, hahaa. Jangan manggil a lagi ah gak enak, Rin.”
“Iya deh iya, Bar. Kita pacaran.”
Aku berhasil bangun. Arini membangunkanku dari mimpi selama
ini. Benar kata si Wijaya temanku. Kalau kamu yakin bakal dapetin satu cewek,
kamu bakal dapetin. Dan benar juga dugaanku. Doaku untuk Arini menang kuat
dibanding doa Arini untuk pacarnya yang kemarin. Ya Tuhan, Engkau Maha Kuasa
membolak-balikkan hati manusia. Tidak salah aku meminta hati kepada pemiliknya,
bukan kepada orang yang dititipi hatinya.
Dua tahun setengah aku mencintai Arini, menunggu Arini,
mencumbui Arini cuma lewat doa, berganjar cinta yang berbalas. Terima kasih
Tuhan tidak pernah ingkar janji. Aku merasa jadi orang yang paling bahagia di
galaksi Bima Sakti ini. Banyak teman-temanku yang tidak menyangkanya juga. “Gila,
‘kan. Mimpi gue udah kecapa, bro. Mau apa lagi coba gue. Tinggal mikirin mati
enak, hahaa.” Itu salah satau kalimat sombongku pada teman-teman,
mengekspresikan bahagiaku.
***
Sudah sebulan aku pacaran, aku masih suka bingung, masih
suka belum percaya dan nanya ke diri sendiri, “Ini bener kan aku pacarnya
Arini? Hey, aku pacarnya Arini lho.” Suka sedikit masih merasa mimpi, tapi ini
nyata, AKU PACARNYA ARINI. Sudahlah, sekarang tinggal aku harus mencintai Arini
tiap hari, dari bangun sampai tidur lagi. Harus tetap seperti ini, sekalipun
LDR L. Hehe
Hey, awas, pacarnya Arini mau lewat, HAHAA.
Oleh: Sugih Bhakti Ar.
Komentar
Posting Komentar