Lebih dari Cemas
Seorang
Ibu mengantar dua anaknya berenang. Dua anak laki-laki itu begitu senang,
sedang ia tidak. Nampak pada kerut di dahi nya kegelisahan yang menumpuk
seperti gundukan jerami memenuhi ladang kosong tak berpenghuni. Entah persoalan
apa yang tengah ia selami, padahal jelas kaki yang ia punya menapak bumi. Apa yang
begitu di cemaskan hingga lengkungan di bibir mutiara nya tak lantas
membubarkan lamunan.
Aku
jadi teringat beberapa persoalan tentang Ibuku. Sejak aku tinggal sedikit
berjauhan dengannya, bentuk khawatir itu kian kentara. Melalui ponselnya ia
menghubungiku tiap hari. Tentang ucapan kehati-hatiannya tiap waktu, tentang
pertanyaannya sudah makan atau belum, uang yang kemarin masih tersisa atau
habis, tentang kapan akan pulang. Bukan kah itu juga soal ke khawatiran?
Di
antara nya selalu ada ucapan ;
“Makanlah
yang baik” | biar makan seadanya asal anaknya tak kurang
“Iya
nanti Ibu belikan” | artinya harus berkerja lebih keras lagi
“Iya
nak yang sabar ya” | kesana-kemari mencari pinjaman uang, biar menahan malu,
asal anaknya jangan
“Ibu
sehat, kamu baik-baik disana” | kaki nya lelah, punggung nya sakit, lehernya
pegal
“Ya
Allah lindungi anakku dimanapun ia berada, permudahlah segala urusannya” |
sampai tak sempat berdoa untuk kesehatannya sendiri
Aku
sedikit-sedikit mengerti bagaimana seorang perempuan harus menjalani hidupnya
(cepat atau lambat). Menjalankan peran sebagai seorang istri dan Ibu. Aku seorang
perempuan dan akan menjadi seorang istri dan Ibu. Ada baiknya aku belajar
banyak kepada Ibuku, juga Ibu yang masih sedang memangku pipi oleh ke dua
tangannya. Sedikit banyak bagian ke khawatiran seorang Ibu adalah anaknya. Mungkin
saja Ibu tadi sama seperti Ibuku dirumah yang kadang-kadang mengkhawatirkan
masa depan anaknya.
Waktu
hampir petang, dua sudut pada bola mataku terpaksa pamit untuk pulang dan
memeluk Ibu. Seraya berucap “Ibu maafkan anakmu”….
by : Denarisa Eka
Komentar
Posting Komentar