Cerita dari Mimpi (bagian 4; selesai): Nyatanya Tetap Memijak Tanah

“Yo bandrek, wo wo, cap jahe, orapopo, ini cuma seribu, enak sama ubi cilembu. . .” sontak lirik lagu Mang Saswi itu melintas di benakku. Itu tak lepas dari wangi 4 gelas bandrek yang baru saja disajikan oleh si bapak tukang bandrek. Ini malam minggu kesekian yang aku habiskan dengan teman-temanku. Maksudku, sudah banyak malam minggu yang kulewatkan tanpa pacarku, Arini. Ya beginilah LDR, Arini sudah setengah tahun di Semarang. Tapi tak mengapa, aku masih nyaman hanya pacaran lewat teknologi canggih bernama smartphone. Setidaknya langitku masih sama dengan langit Arini. Toh kalau sedang senggang atau libur pun aku dan Arini selalu menyempatkan bertemu. Sekedar memanen buah-buah rindu, lalu memupuk kembali rindu sesaat setelah si jarak memisahkan lagi. Bajingan.

Langit sudah setengah larut, layar ponselku menyala tiba-tiba. Oh, kiranya ada pesan darimu. Kukira Arini sudah tidur dari tadi. “Bara.” Lho, kenapa ini Arini? Cuma 4 huruf dan cuma tulisan di ruang pesan ponsel, tapi aku bisa mendengar nada suara Arini yang tidak biasa. Tapi aku belum sempat membalas pesannya, si Wijaya ngajak pulang seraya membayar bandrek dan kue putu.

Sampai di kamar aku baru membalas pesan Arini. Dan jawaban pesan lagi dari Arini kian menyeramkan, “Ada yang mau aku bicarakan, Bar.”. Sudah jadi kesepakatan semua lelaki lah, kalau pacar sudah mengeluarkan kalimat itu berarti ada hal buruk yang sebentar lagi terjadi. Kalimat itu begitu menyeramkan, bahkan kumis Adolf Hitler pun kalah seram. Lantas kutelpon Arini biar bisa ngobrol langsung lebih jelas, tidak buang-buang tenaga lewat mengetik pesan. Tapi panggilan pertamaku tidak diangkat, euh, maaf, di-reject maksudnya.

“Yaudah, mau ngobrolin apa, Rin?” pesanku sok santai, padahal aliran darah dari serambi ke bilik jantung sudah semakin cepat. Ada yang tidak beres. Dan itu adalah pesan ‘waras’ terakhir, ke sananya chatingan-ku dengan Arini semuanya membahas feel, sekaligus panjang-panjang mirip cerpen.  

“Bar, akhir-akhir ini aku ngerasa jenuh sama hubungan kita. Gak tahu kenapa sih.”

“Maksud kamu? Jenuh gimana? Aku gak ngerasa jenuh kok, Rin. Perasaan kemarin-kemarin juga kita baik-baik aja ‘kan, gak ada masalah apa-apa. Kenapa kamu tiba-tiba jenuh?”

“Ya, aku juga gak tahu, Bar. Ini yang aku takutkan juga pas di awal-awal sih. Gara-gara LDR, jadi gak semua hal berjalan lancar. Ya ini contohnya, aku ngerasa gini-gini aja sama hubungan kita.”

“Terus mau kamu gimana, Rin?” ini masih dalam chatting. Sementara si Wijaya nanya ini itu aku tidak memperdulikannya, fokusku teralihkan ke percakapan tulisanku dengan Arini.

“Sebaiknya kita jalan masing-masing dulu deh, Bar.” Maksudnya Arini jalan masing-masing apa ya? Jarum jam makin dekat ke angka 12, percakapan ini makin rumit saja.

“Jalan masing-masing maksudnya gimana, Rin?”

“Ya gitu, kita masing-masing dulu dari sekarang. Gak terikat apa-apa.”

“Putus maksud kamu? Kamu mau kita putus, Rin? Kenapa?”

“Yaaa, iya gitu. Kamu ngerti ‘kan, Bar? Aku lagi mau sendiri aja dulu, lagi gak mau pacaran. Sekalian aku mau fokus kuliah dulu di sini. Aku mau sepenuhnya bisa bahagiain ortu dulu. Kamu juga gitu, Bar. Kamu harus sukses dulu. Kamu harus bahagiain orang tua kamu dulu.” Akhirnya aku bertemu dengan kalimat paling standar, alasan paling basi. Fokus belajar, fokus kuliah, atau apalah itu semacamnya. Kenapa harus mengkambing hitamkan fokus kuliah? Gak ada alasan lain?

Aku tak langsung membalasnya. Aku langsung menelpon Arini. Konyol sekali orang putus chatting. Minimal aku harus ngobrol langsung dulu dengan Arini. Tapi. Enam kali kutelpon Arini semuanya di-reject. Malah ada pesn lagi dari dia, “Jangan nelpon, aku lagi males ngomong.” Terkesan sedikit pengecut sih. Kau kira pacaran sebercanda tadi?

Lantas kubalas lagi, “Tapi bener itu alasan kamu mutusin aku? Bukan gara-gara hal lain kayak gara-gara ibu kamu gak suka sama aku? Atau gara-gara mantanmu ada lagi?”

“Iya bener, Bar. Kata kamu juga ‘kan, jadian baik-baik putus pun harus baik-baik. Eh malah kata kamu ‘kan buat kamu gak ada kata putus, yang ada ‘kembali berteman’. Tadinya temen, pas pacarannya udahan jangan jadi gak kenal ,harus tetep jadi temen. Lagian kalau emang jodoh ‘kan nanti bakal ketemu lagi, percaya deh. Yang penting kita sekarang sama-sama perbaiki diri aja, karena yang baik dapat yang baik. Right man on the right time. Suatu saat kamu pasti ngerti kok sama keputusanku ini, Bar” Alah, perset*n dengan jodoh balik lagi, perset*n dengan semua kalimat penenangmu tadi.

“Ya udah, kalau emang menurut kamu ini yang terbaik, kalau memang ini mau kamu aku ngikut. Aku gak bisa maksain kehendak. Makasih ya, Rin. Udah sejauh ini, udah sempet bangunin aku dari mimpi.” Sedikit, aku juga bisa memberikan kalimat penenang. Minimal meyakinkanmu bahwa aku bisa menerima kenyataan. Kenyataan yang sangat nyata dibandingkan semua teori tentang kenyataan. Tapi. Temanku Ica ada benarnya, meskipun setiap alibi mengharapkan pemakluman, selalu ada yang tidak baik-baik saja setelah perpisahan. Yang jelas aku ini orang yang memegang komitmen dan memegang kata orang. Kupegang kalimatmu yang katanya kau sedang mau fokus kuliah, sedang gak mau pacaran. Kalau sampai kau ternyata pacaran juga, tak apa itu urusanmu, tapi aku akan jadi orang terdepan yang tertawa besar di hadapanmu.

Mungkin untuk beberapa waktu ke depan hatiku belum bisa seimbang, tapi aku jamin aku bisa mengatasinya. Kau fokus saja kuliah, inget ya, fokus. Juga doaku beberapa waktu ke depan mungkin masih tentangmu. Bukan memintamu kembali, tapi meminta untuk cepat-cepat meluoakanmu. Aku gak mempertahankan orang yang gak ngerasa beruntung punyai aku. Aku yakin setelah ini semuanya akan lebih baik, entah cerita yang lebih baik ataupun orang yang lebih baik.

Terima kasih, Arini. Kau sudah mengajarkanku serunya berpetualang di jembatan penantian. Kau sudah menunjukkanku indahnya muara penantian. Dan kau sudah mengajarkanku bahwa gak semua mimpi adalah yang terbaik jika dijadikan nyata.

Mimpi tetaplah mimpi, sekalipun jadi nyata, tetap tidak seindah di mimpi. Setinggi apapun ‘si mimpi’, takdir ‘si nyata’ tetap memijak tanah.


Oleh: Sugih Bhakti Ar.

Komentar

Postingan Populer