Belum Ada Judul

Part 1

Aku belajar banyak dari “Kenapa”. Hingga tak kutemui lagi alasan untuk menghakimi setiap tetesan air hujan yang membuat bumiku ini basah. Untuk ribuan daun yang memutuskan jatuh dan gugur. Untuk setiap hal yang terjadi dan telah kulalui. Sekarang, aku biarkan Dia yang kemarin mati. Aku suka jadi Dia yang baru, Dia yang manis seperti apa kata orang tuaku dulu. 21 tahun lalu, saat mereka menamaiku Dialektika Pramudita. Pada suatu pagi di hari Senin yang sejuk.
“Aleeeeee, astaga buruan lama bangeeet sih!” teriak Meta dari luar.
“Iyaa ayo udah siap nih,” kataku sambil lari keluar rumah.
 Kata Meta, namaku terlalu panjang dan repot. Jadi panggil Ale aja, biar cepat. Selama kuliah di Bandung, aku tinggal dirumah Meta. Kebayang kan, kalau tinggal serumah. Berpisah cuma pas ke kamar mandi doang, sisanya you know lah ya. Kaya tidur diranjang yang sama. Sengaja beli t-shirt yang sama, padahal buy one get one sih! Ke salon bareng, Meta creambath-an, aku bantu mendoakan eh maksudku ikutan. Yang gitu-gitu lah ya pokoknya.
Sekarang aku lebih suka menyebutnya, Sabtu malam. Sedikit diperhalus dan dibuat sopan. Supaya terdengar nyaman dan ramah lingkungan. Seperti anak hitz Bandung kebanyakan, aku juga melakukan ritual rutin ini, sebut saja hang out. Cari makan, cari jajanan, cari tontonan, cari bahan obrolan hingga bahan gosipan. Kalau udah, ya pulang.
Hidupku asik sekali Tuhan. Enak sekali bisa hidup tanpa tanggungan. Semua dialirkan, tanpa beban. Bersyukur dengan yang ada, bukan terpuruk pada setiap hari dengan sama. Berlaku seperti biasa, hilangkan semua drama.
“Makan apa kita malam ini?” dengan riang gembira, kutanyakan pada Meta
“Makan nasi panas, Le. Pakai kuah rendang. Diatasnya jangan lupa kasih bawang goreng.” kata Meta, “sempurna” lanjutnya lagi.
“Padaaaaaaaaaaaaaang !!! minumnya teh tawar panas ya, Met? Kataku bersemangat. “Tapi jangan pake….” Tambahku banyak lagi.
Sesederhana percakapan soal padang, hari-hari berlalu begitu saja. Aku sibuk, Meta sibuk. Kalau senggang, keluar lagi, cari angin lagi. Anak muda boleh begitu, asal jangan sendiri-sendiri, nanti sering galau.
Aku seperti anak sehat lainnya. Suka agak kesiangan dalam menyambut pagi di hari Minggu. Baru bangun jam 10, lari ke dapur, sarapan yang kesiangan, rebahan lagi di kasur, dan yang penting kosongkan jadwal untuk pergi mandi, karena free. Aku penikmat Minggu, namun tidak dengan rindu. Aku sedang ada di atap, lantai 2 rumah Meta. Duduk pada sebuah kursi yang disandingkan dengan secangkir kopi. Tenang, kuteguk perlahan, lalu dengan cepat membiarkan masuk semua kenangan. Sungguh kesialan yang malang.
Itu dimulai pada sebuah kedai kopi di sebrang kampus. Kamu, datang sebagai satu-satunya lelaki yang telah membuatku jatuh cinta pada tegukan pertama kopi Aceh. Itu kali pertama aku menyukai kopi, dan lelaki. Kamu melintas percis didepanku, saat pertama kalinya kuteguk kopi yang dipesan Meta untukku. Aku jatuh cinta, aku yakin 100% ditambah 200, lagi. Tanpa berkata apapun, hanya memandangimu dan menikmati setiap tegukan kopi pahit pagi itu. Dalam hati, “ah padahal kan aku gasuka kopi”.
Kamu kenakan kemeja putih yang lengannya kau gulung hingga siku. Jam tangan di lengan kirimu. Rapih pula rambutmu, dan tambahannya kacamata yang tersangkut di hidung mancungmu. Astaga, kau pesona yang tiada dua, kukira. Aku perlu memandangimu lebih lama. Sedang Meta, yang duduk disamping kananku sepertinya tahu. Bahwa lelaki pada 2 meja didepanku, telah mengalihkan duniaku.
Kamu berlalu, tanpa sempat kutanya siapa namamu. Barista disana juga gak kenal kamu. Aku berbalik menghadap Meta.
“Met, kenapa tadi gak aku samperin yah, nyesel!” kataku.
“Ya udah deh, palingan nanti juga ketemu lagi, kalau beruntung. Kalau belum, ya coba lagi haha,” gurau Meta
“hmm,”
Hingga dua hari berikutnya di sebuah toko buku bekas. Aku bertemu lagi denganmu. Singkat cerita aku memutus urat maluku, dan berani mengajakmu berjabat tangan. Tentu pertama, untuk tau siapa namamu. Lalu berlanjut dengan saling bertukar line. Untuk selanjutnya saling berkomunikasi secara senang, menurutku.
Pembicaraanku, tentang kamu, gak pernah selesai. Aku mengenalmu, jauh. Terlampau jauh dari semua ekspektasiku, kemarin, kemarinnya lagi. Setelah ku tahu namamu, aku juga tahu semuanya. Rumahmu, orang tuamu, kebiasaanmu, kesukaanmu, sampai jadwal rutin kamu mandi, pun aku hapal. Menurutmu, apa yang lebih bahagia dari dua orang manusia yang sedang jatuh cinta? Pertanyaan yang kutujukan untuk semua orang, di seluruh planet di angkasa sana. Haha aku bahagia karena telah jatuh cinta padamu. Kenapa juga hari-hari menjadi cepat berlalu saat kita  sedang bahagia? Juga selanjutnya, baru kutahu kalau Bandung itu ternyata sangaaaaaaaaatlah indah. Karena kamu ada didalamnya, bersamaku. Aku enggan, melewatkan waktu tanpamu. Terimakasih, aku bahagia. Tolong kamu bilang kepada semua temanmu juga, aku bahagia, karenamu. Kamu adalah semua hal yang aku mau. Aku serius.
Hari-hari berlanjut seperti biasa, kupasang wajah bahagiaku dengan bangga. Hingga sesaat kemudian, kudapati line darimu. Yang isinya, “Diaaa.. Aku sedang bersama pacarku sekarang. Aku minta maaf, akan kujelaskan semuanya nanti, kita ketemu di kedai kopi biasa jam 4 nanti!”
Aku lemas. Aku diam. Aku tersungkur ke lantai bersama semua tawaku yang kubangun bersama denganmu. “Kenapa harus aku? Kenapa kamu begini, salahku apa? Kenapa kamu pergi? Kenapa tiba-tiba? Kenapa gak bilang dulu? Kenapa? Apa dia lebih cantik dariku? Kenapa? Apa dia lebih baik dariku? Kenapa kamu sejahat ini? Kenapaaaaaaaaaaaaa?” sekuat hati kutahan semua marahku, semua pertanyaan itu muncul tanpa bisa berhenti. Aku tak terkendali.
Aku memutuskan untuk diam walau diburu banyak pertanyaan. Waktu melambat, sangat melelahkan. Segalanya menjadi aneh, tak kukenali lagi aku yang biasanya. Aku hilang, dikuasai oleh retak-retak yang entah sengaja atau tidak kau buat....

                                                                                                                     by: denarisaer

Komentar

Postingan Populer