Kopi Jangan Didiamkan, Cinta Butuh Kehadiran
“Ngana tak pulang ke Menado lagi
semester ini? Semester kemarin ngana juga tak pulang, kan?” tanya teman sekelasnya
Wanda, Hendro. Hendro sebenarnya orang Jogja asli, keturunan jawa. Tapi dia
suka sekali memanggil Wanda dengan panggilan khas Menado, ngana (re: kamu).
Sebenarnya kata ‘ngana’-nya Hendro berawal sederhana, satu setengah tahun lalu Wanda
datang ke Jogja untuk menuntut ilmu, eh maksudnya mencari ilmu karena ilmu
tidak bersalah jadi tak perlu dituntut. Satu setengah tahun lalu Wanda diterima
di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Bukan kebetulan pula Wanda satu
kelas dengan Hendro, si pria medok, sudah ditakdirkan oleh Tuhan mereka satu
kelas. Hingga sore ini mereka menjadi teman baik, sahabat yang sangat dekat,
tak jarang Wanda menginap di rumahnya Hendro, ataupun sebaliknya Hendro yang
main dan bermalam di kosan Wanda, bukan untuk ikut tidur tapi untuk main PS
hingga subuh.
Seperti sore ini, Hendro sedang
di kosan Wanda, dia berniat menginap karena kebetulan juga ini malam minggu.
Hendro bukan tak punya pacar karena malah bermalam minggu di Wanda, tapi sabtu
ini merupakan sabtu terakhir pacarnya praktikum kegiatan kuliahnya di luar
kota, sudah 2 malam minggu Hendro lewatkan dengan bermalam di kost-nya Wanda.
“Ah tidak, aku sibuk kuliah nih banyak tugas.” terang Wanda sambil membereskan
buku dan tasnya. Mereka berdua baru saja pulang dari kampus. Seperti biasanya
mereka mengakhirkan mandi, lebih memilih ngerumpi dengan badan kurang segar,
yang penting sudah minum.
“Kuat juga rupanya sampeyan ya
sudah lama gak pulang kampung. Gak kangen kamu ke ayah ibumu?” tanya Hendro
lagi sambil memotong kuku tangannya memakai gunting kuku milik Wanda.
“Sebenarnya sih aku juga pengen
pulang ke kampung halaman, tapi lupa halaman berapa, berapa ya?”
“Sialan kau, malah dibecandain.”
Hendro sempat mengerutkan dahi mencerna candaan Wanda, “Serius, Wan, betah amat
kamu di Jogja.”
“Hahaa, biar ngana tak terlalu
serius memotong kuku. Kangen sih, Dro, cuman kan Menado jauh. Ongkos juga
berat, mending aku pake liburan uangnya. Aku juga udah nelpon ke mamaku,
katanya juga gak apa-apa aku gak pulang dulu kalau akunya sibuk.” jawab Wanda
sambil menghidupkan dispenser, disiapkannya kopi hitam ke cangkir. Rupanya
Wanda mau minum kopi sebelum mandi, agar perutnya terasa mules dan bisa ‘setor’
sebelum mandi. (FYI: Minum kopi bukan
hanya bisa sedikit menghilangkan kantuk, tapi juga merangsang perut menjadi
mules sehingga ingin buang air besar).
Wanda tetap melanjutkan memotong
kukunya. “Eh pacarmu gimana? Dia di Surabaya, ‘kan? Gak main ke Surabaya? Udah
setaun kalau gak salah kamu gak ngejenguk pacarmu, terakhir kamu ke Surabaya pas
libur taun lalu, ‘kan? Kasihan dia, semester kemarin juga kamu di Jogja terus,
gak kangen kamu?”
“Ya kalau kangen pasti ada lah,
tapi mungkin dianya sibuk juga. Sesekali kita juga suka telponan kok, kalau chating sering malah. Aku masih bisa
ngatasin rasa kangenku lah.”
“Tapi pacarmu itu? Dia bisa
ngatasin rasa kangennya? Jangan samain sama kamu juga, Dro. Dia itu cewek,
jelas beda lah kalau cewek.” balas Hendro. Boleh jadi pernyataan Hendro itu
benar, kadang perlu melihat bukan hanya
dari posisi sendiri, posisikan diri sendiri di posisi orang lain, sekalipun
pacar.
“Ah ngana ini malah nyeramahin
aku. Kalau mau ceramah di mimbar aja sekalian. Sana lah sana, sebaiknya ngana
mandi. Badanmu udah bau kayak kambing. Ngana tahu kenapa kambing bau?”
“Kenapa?”
“Sebab kambing itu keteknya
empat.” Wanda mendorong-dorong Hendro dengan kakinya supaya pergi ke kamar
mandi.
“Hahaa, sialan kamu, Wan. Aku
kira ada jawaban yang agak ilmiah. Udah lah aku mau mandi duluan udah sore.”
Hendro berlalu ke kamar mandi seukuran 2x1,5 meter. Maklum, kamar kos memang
serba secukupnya. Hendro setengah berteriak dari dalam kamar mandi, “Wan, aku
mintan sabun cairmu ya, aku lupa gak bawa.”
Wanda tidak menjawab, hanya
terus memainkan ponselnya sambil sesekali meminum kopinya. Toh, bila Wanda
menjawab jangan pun, Hendro akan tetap memakai sabunnya Wanda tanpa
mengindahkan. Sudah biasa lah yang namanya laki-laki bersahabat, berlaku aturan
‘milik bersama’ untuk beberapa hal, pada sore ini berlaku pada barang yang
dipakai.
Selepas keduanya berpakaian
rapi, ya rapi untuk stelan nongkrong ringan, bukan stelan wakuncar. Kalau dalam
sebuah malam minggu ada dua laki-laki atau lebih tanpa perempuan, sudah bisa
dipastikan mereka akan nongkrong di kedai-kedai murah, hanya bermodal daya smartphone di atas 90%, celana panjang,
rokok kesukaan, dan pemantik api, sempurna. Seperti halnya Wanda dan Hendro
yang baru saja pulang dari kedai ramen, padahal jam di atas lemari baju Wanda
baru menunjukkan 10.37, belum terlalu malam untuk malam sekelas malam minggunya
mahasiswa. Wanda menyeduh kopi lagi karena merasa malam ini akan sedikit
panjang dari biasanya.
Wanda hanya terus memainkan
ponselnya sejak masuk ke kamar kos, serius sambil tak jarang ibu jarinya
mengetik teks. Sementara Hendro membiarkannya, mungkin ada hal agak serius yang
sedang Wanda selesaikan. Sambil memutar musik di notebook Wanda, Hendro membuka
situs-situs sosial media di internet sambil tiduran tengkurap. Lalu Wanda?
Belum usai dengan ponselnya, tapi nampaknya saat ini usai, sambil menengok ke
arah Hendro, “Dro, aku diputuin pacarku barusan.”
“Hah? Diputuisn kenapa, Wan? Ada
masalah apa?”
“Aku juga tak tahu, tiba-tiba
dia nge-chat ke aku dan mutusin aku
gitu aja.” Wanda agak sedikit lesu, dan tanpa memainkan ponselnya, hanya fokus ke
arah Hendro.
“Kamu tanya dong apa alasannya
dia tiba-tiba mutusin kamu gitu aja!” Hendro berhenti dari dunia mayanya,
teralihkan oleh Wanda, lebih tepatnya penasaran atas putusnya Wandaa dengan
pacarnya.
“Dia sih bilangnya udah jenuh
pacaran gini-gini aja, cuma chating, telponan, video call. Terus katanya mau
fokus kuliah dulu, gak pacaran dulu, ah goblok basi banget kan alesannya, Dro?”
Hendro bangkit dari
tengkurapnya, “Ya bisa dibilang basi sih emang alesannya yang mau fokus kuliah.
Tapi kalau alesan jenuhnya sih ya gak klasik juga, sih. Secara kan kalian
pacaran cuma sebatas chating-an,
paling jauh juga video call.”
“Ah, tapi aku gak ngerasa jenuh,
Dro. Apalagi sampai kepikiran buat putus, gak pernah tuh. Aku ngerasa
hubunganku nyaman-nyaman aja.” Yap, betul. Perkataan Wanda memang tepat bahwa
tidak harus merasa jenuh, tapi itu jika dilihat dari Wanda. Lain halnya dengan
perempuan.
Perasaan perempuan itu lebih
sensitif. Seperti kata salahsatu teman Hendro yang lain bahwa perempuan itu
seperti pantat bayi, sensitif. “Iya itu menurut kamu, Wan. Ditambah lagi kamu
itu kan aktivis di kampus, jadi punya kesibukan lain juga. Lah, kalau pacarmu
itu kan cewek, jelas beda lah, Wan, perasaannya. Cewek itu lebih sensitif.
Mungkin di Surabaya dia gak sesibuk kamu, dia lebih punya banyak waktu luang,
gak sebanding sama kamu yang sibuk.”
“Terus maksud dia jenuh itu
gimana? Jenuh dari apanya? Yang terpenting kan kita tetap menjaga kepercayaan
satu sama lain. Tetap menjaga komitmen, tetap menjaga komunikasi, kan?”
“Mungkin karena kalian jarang
ketemu kali, udah hampir setahun lho kalian gak ketemu. Mungkin karena kalian
udah lama gak ketemu kali, jadi dia ngerasa ada yang beda, biasa lah cewek.”
“Tapi kan aku sama pacarku
komunikasinya lancar kok, yang penting kan tetep ngejaga komitmen, ngejaga
kepercayaan satu sama lain. Hubungan bisa tetep jalan ‘kan? Lagian aku sama
pacarku sering kok video call, saling
tatap muka juga ‘kan?”
“Iya memang. Ngejaga komunikasi,
kepercayaan satu sama lain, sama satu lagi apa?”
“Komitmen!”
“Iya ngejaga komitmen. Semua itu
emang penting dan harus banget dalam sebuah hubungan. Tapi apa kamu gak sadar,
Wan? Lebih jauh dari itu semua, hubungan itu bukan cuma masalah komitmen. Tapi
cinta itu butuh kehadiran Wan, ngerti kan kamu? Secanggh apapun teknologi,
sekalipun kamu bisa tatap muka sama pacarmu lewat video call tapi kan tetep beda rasanya sama ketemu langsung.
Pacarmu mungkin gak bisa terus-terusan pacaran sama smartphone yang ada gambar kamunya.”
Wanda melihat ke langit-langit
kamarnya, tapi tidak ada yang dilihatnya. Dia hanya melihat kosong, sebari
mencerna obrolan Hendro barusan. Bukan tanpa alasan Hendro berbicara semacam
itu, dia juga bukan paranormal yang tahu hal-hal ‘tabu’ semacam itu, tapi dia
pun sempat mengalami hal yang hampir mirip dengan Wanda. Kandas. “Terus aku
harus gimana, Wan?” melihat lagi ke Hendro.
“Lah, kok ngana malah nanya ke
aku? Ya tanya lah dirimu sendiri, akuin dulu kesalahanmu. Bukan kesalahan sih,
keegoisan mungkin.” Hendro kembali memainkan notebook silver tadi, dirasanya
teman egoisnya itu sudah mulai mendapati jalan keluar. Dibukanya kembali
aplikasi sosial media di notebook.
Wanda hanya diam, hubungannya
yang sudah cukup lama ia jalani dengan pacarnya, tepat malam ini selepas
nongkrong dari luar, harus berakhir di layar handphone miliknya, lewat teks, bukan suara pacarnya langsung.
“Senin aku ke Surabaya, Dro. Kau ikut ya temani aku!”
“Senin? Senin depan?”
“Iya Senin depan, lusa. Besok
kan minggu, bisa buat packing sama
pesan tiket kereta lah. Ikut kan ngana?”
“Apaan sih narik-narik guling
segala.” Wanda sedikit jahil, merayu Hendro supaya ikut ke Surabaya, “Enggak ah
enggak, Wan. Senin sampe Rabu aku padet jadwal kuliah. Sendiri aja kau lah, ke
Menado aja berani sendiri. Surabaya sih deket.” Malam itu sedikit agak panjang.
Kopi malam itu sedikit agak pahit dari biasanya. Cangkir kopi malam itu sedikit
agak malas diangkat. Sampai-sampai sisa kopi yang masih setengah itu lupa
diteguk Wanda hingga pagi, tapi tidak sampai menjadi agar-agar juga kopinya
akibat terlalu didiamkan dan dingin. Lebih tepatnya tidak ada ilmu fisika
maupun kimia yang menjelaskan kopi yang terlanjur dingin bisa menjadi
agar-agar. Demikianlah cinta dengan penalaran lebih jauhnya. Cinta butuh
kehadiran. Hubungan tidak butuh teknologi super canggih yang bisa menghadirkan
wajah ‘si cinta’ – semacam video call.
Pun demikian dengan hubungan
Wanda dengan pacarnya. Hampir mirip dengan kopi malam tadi. Terlalu lama
didiamkan, terlalu dianggap rasanya akan tetap sama walau tidak ada pertemuan,
ya, pertemuan permukaan air kopi dengan bibir peminumnya. Semakin didiamkan
kopinya semakin dingin dan semakin malas untuk disebut ‘masih nikmat’.
Begitupun hubungan, semakin lama didiamkan tanpa pertemuan semakin malas untuk
dipertahankan. Tanpa mengkambinghitamkan orang ketiga, kopi ketiga.
Oleh:
Sugih Bhakti Ar. - Pangandaran
Komentar
Posting Komentar