Lembayung
Senja
oleh : Denarisaer
Sekitar
1.260 kursi per minggu, tersedia untuk rute penerbangan Yogyakarta-Pekanbaru.
Aku pilih sore di hari Selasa untuk bisa duduk pada salah dua kursi
diantaranya. Satu untukku, satunya lagi untuk Zul. Zulfikar namanya, tapi
kupanggil Zul saja biar cepat. Aku dan Zul berniat untuk pulang, aku pulang ke
rumahku, Zul pulang ke rumahnya. Kebetulan saja Zul lahir di Pekanbaru, dan aku
juga. Kata orang aku sama Zul itu pacaran, tapi Zul juga bilang gitu, jadi
singkatnya aku percaya saja.
Waktu
itu, Selasa pertama di bulan Juni. Sangat hangat, mengiringi 842 mil atau 1.356
km atau 732 nautical miles perjalananku. Membutuhkan sekitar 2 jam 5 menit
untuk bisa sampai ke Bandara Udara Sultan Syarif Kasim II. Aku selalu menikmati
setiap perjalanan, terlebih lagi kalau ada Zul, juga cangkir berisikan kopi tanpa
gula yang tentunya masih panas.
“Mba,
aku minta kopi panas tanpa gula untuk 2 orang! 3 juga boleh! Satunya lagi buat Mba, biar samaan hehe.” kata Zul pada
pramugari sedikit menggoda.
“Ini
untuk Mas dan Mba nya saja ya,” sambil melemparkan senyum khas pramugari, yang
kalau senyum seperti iklan-iklan pasta gigi di televisi. “Silahkan, selamat
menikmati.” Katanya lagi.
Menurutku kopi panas bersama Zul selalu
mengagumkan. Terlebih aku menikmatinya diatas
Garuda yang sedang terbang di angkasa, dengan begitu perkasa. Aku suka Garuda,
disini minuman dan makanan ringan disajikan pada setiap keberangkatan, plus tanpa
biaya tambahan. Alias gratis, aku suka, mungkin kalian juga.
“Zul, coba lihat ke jendela deh!
Langitnya lagi bagus,” kataku sambil memandangi langit dari sisi dalam jendela.
“mmm,” Zul menjawab dengan biasa saja.
Ah
sebal, Zul selalu begitu kalau sudah asyik pegang buku. Buku tulis biasa
seukuran buku pada umumnya, yang sampulnya Zul buat sendiri dari karton bekas
biru muda yang sudah sedikit luntur warnanya. Dan bertuliskan “THE EARTH
WITHOUT ART IS JUST EH” pada bagian depannya.
Buku
itu isinya semua hal yang Zul pernah lihat, dengar, rasakan, lakukan, yang kadang-kadang
juga diselipkan sedikit imaji. Zul suka semua hal tentang seni, tanpa kecuali.
Dunia Zul memang sudah begitu, sejak kecil. Aku paham betul. Menurutku Zul itu
paket komplit, buat semua perempuan sebangsaku. Tapi kadang-kadang aku suka sebal.
Kamu tahu? Fans nya banyak banget, cewe-cewe pula. Udah gitu Zul sering digoda,
dasar perempuan-perempuan kurang perhatian, kukira. Kalian harus percaya itu
deh.
“Kamu
yaa, kebiasaan banget suka gak dengar kalau aku lagi ngomong.” kataku, sambil
kupasang headseat ditelinga. “We don’t talk anymore.. We don’t talk anymore…..”
sengaja ku putar lagu itu, sambil sedikit nyanyi, ku keraskan pula suaraku.
Tapi sayang, dia terlahir sebagai salah satu spesies makhluk hidup yang kurang
peka. Kuteruskan nyanyianku sampai lagu ke 5. Tetiba Zul melepas headseat pink
muda yang tadi nempel di telingaku.
“Nih
lihat!” kata Zul singkat.
“Apaan?”
jawabku, juga singkat.
“Lihat
aja!” sambil bukunya disodor-sodorkan ke depan jidatku, yang lebih mirip
lapangan futsal kalau kata Zul.
“Ini
apa?”
“Kalau
kupikir-pikir sih mirip lirik lagu, tapi coba deh dilihat dulu. Siapa tau
menurutmu malah mirip kartu tagihan hahaa,” katanya sambil menggoda, “aku langsung
nulis pas kamu bilang langit nya lagi bagus hehe,” kata Zul lagi.
Aku
diam saja, sambil mulai merhatiin coretan yang dia buat. Aku baca tulisannya dengan
sangat teliti, melebihi telitinya seorang peneliti, kukira. Isi tulisannya
begini :
“Lihatlah
mentari berlalu.. Perlahan tinggalkan cakrawala..
Sinarnya..
Meredup..
Dan
pandangi ke ufuk barat.. Petangpun menjelma kemuliaan..
Ronanya..
Merayu..
Lembayung
senja.. Tlah tiba..
Hadir
menjemput.. Sang rembulan..
Romansa
jiwa.. Menyapa..
Hadir
bubuhkan.. Ketenangan..
Lembayung
senja..
Lembayung
senja..”
Lirik yang kutulis ulang ini sama percis
dengan yang Zul tulis dibukunya, sampai ke titik-titiknya gaada yang sengaja aku
tambahin atau buang. Kalian tau? Itu adalah sejak pertama, saat aku jatuh cinta
pada senja beserta lembayungnya. Apa kalian tau juga? Aku selalu suka Zul,
berikut perangkat-perangkat pengikutnya, seperti ini. Tentu kalian juga gak tau
kan? Aku cinta Zul setiap hari, meski Zul gak pernah secara lantang bilang, dia
mencintaiku juga. Tapi aku tau Zul lebih dari siapapun, sampai ke bagian paling
ujung dari jempol kakinya. Zul gak pernah sekalipun niru-niru gaya Romeo
ataupun Dilan yang sedang hits di masa sekarang, buat bisa jadi seorang manusia
luar biasa dimataku. Zul adalah diam yang selalu santai, dengan gayanya
sendiri, menurutku. Aku suka Zul. Terlebih karena dia manusia.
“Gimana?” kata Zul sambil menyenggol.
Aku gak menjawab, hanya kupandangi saja
wajah polosnya itu, sambil kupangku juga dagu mungilku agar tegak terjaga.
“Senja itu hampir setiap hari ada, cuma
gaakan keliatan kalau kita di tempat yang pendek, meski sambil berdiri. Kalau
disini, tinggi. Kamu bisa dengan jelas liatin senja itu. Kamu lihat sana!”
sambil membelokkan pipiku, supaya menghadap jendela.
“Bagus
kan, kamu suka?”
“iya.”
Kataku.
“Lembayung
itu menurut KBBI, artinya merah jingga. Sama percis kaya yang lagi kamu liat
sekarang. Warnanya bikin tenang ya, aku juga suka……..” kata Zul melanjutkan.
Zul cerita banyak tentang lembayung senja
yang sedang aku tatap, dengan pandangan antusias. Zul membawaku melintas imaji,
aku seperti sedang berjalan-jalan di luar sana, berdampingan bersama hangatnya senja
dan lembayungnya sore ini. Aku yakin, bahkan jika ada nyaman lain yang lebih
dari saat ini, aku bersumpah gaakan memalingkan pandanganku secenti pun. Terlebih
bahu yang Zul tawarkan sangatlah pas, sepertinya Tuhan secara special
merancangnya agar cocok untuk tempatku bersandar.
Terhitung sejak detik pertama hingga sekarang,
kira-kira 11.080 jam kuhabiskan waktuku bersama
Zul. Memang gak selalu bahagia. Zul juga seperti manusia kebanyakan, punya sisi
ingin menang sendiri dan rese. Aku sering juga dibuat nangis karenanya. Sebut
saja, tentang es krim cone yang dia habiskan, kunci motorku yang dia umpetin,
lipstick yang dia patahin, sandal putus yang dia rusak, sampai balon yang dia
tusuk. Tapi semua masih bisa aku atasi, aku baik-baik saja.
Di akhir tulisan ini aku jadi kepikiran
buat ikut asuransi. Tau kenapa? Aku pingin memanage semua resiko tentang Zul, yang
bisa aja tiba-tiba muncul. Seperti resiko kehilangan. Aku pingin semuanya
diatur secara apik. Aku percaya yang aku lakukan itu sebagai aksi pencegahan. Seperti
saat aku pakai helm, agar meski risiko jatuh itu ada, minimal isi kepalaku
aman. Bukan apa-apa, hanya saja itu upayaku dalam mengelola aset terpentingku
dari sebuah ketidakpastian di masa mendatang. Oh ya. Kukira, pesawatku sudah
landing, aku pamit.
Komentar
Posting Komentar